Konsuldong menyediakan layanan kesehatan digital terintegrasi untuk individu maupun mitra perusahaan


Telekonsultasi
Dokter 24/7
Registrasi
Rumah Sakit
Obat &
Pengantaran
Wellness
Program
Emergency
Respon
Semua yang Anda butuhkan, dalam satu aplikasi.
Konsuldong 24/7 seakan memiliki dokter pribadi.

Bantuan pendaftaran dan penjadwalan ke rumah sakit dengan mudah.

Resep obat dokter bisa lansung ditebus dan dikirimkan ke lokasi Anda.

Program dukungan kesehatan dan gaya hidup melalui berbagai fitur.

Layanan bantuan untuk keadaan mendesak di kala situasi darurat seperti pemanggilan ambulans.


Keringat Berlebih : Kapan Normal, dan Kapan Perlu Diperiksa? Pernahkah Anda merasa berkeringat lebih banyak dibandingkan dengan orang lain di sekitar Anda? Atau pakaian Anda lebih sering basah meskipun cuaca tidak terlalu panas dan aktivitas tidak terlalu berat? Kondisi ini sering membuat seseorang merasa tidak nyaman, kurang percaya diri, bahkan mengganggu aktivitas sehari-hari. Namun, apakah semua keringat berlebih merupakan tanda bahwa seseorang menderita suatu penyakit? Mari kita pahami kapan keringat berlebih masih tergolong normal dan kapan perlu mendapatkan perhatian medis. Yuk disimak!Mengapa Tubuh Berkeringat? Berkeringat merupakan mekanisme alami tubuh untuk mengatur suhu tubuh. Saat cuaca panas, berolahraga, mengalami stres, cemas, atau demam, tubuh akan menghasilkan keringat untuk membantu mendinginkan diri. Dalam kondisi tersebut, berkeringat adalah hal yang normal dan justru menandakan bahwa sistem pengaturan suhu tubuh bekerja dengan baik.Kapan Keringat Berlebih Masih Normal? Keringat yang masih dianggap normal biasanya muncul saat :-Beraktivitas fisik atau berolahraga.-Berada di lingkungan yang panas dan lembap.-Mengonsumsi makanan pedas atau minuman berkafein.-Mengalami stres, gugup, atau cemas.-Sedang dalam kondisi demam atau mengalami infeksi ringan. Pada kondisi ini, jumlah keringat akan berkurang ketika pemicunya hilang atau tubuh kembali ke dalam kondisi normal.Apa Itu Hiperhidrosis? Hiperhidrosis adalah kondisi ketika seseorang berkeringat secara berlebihan, melebihi kebutuhan tubuh untuk mengatur suhu tubuh. Keringat dapat keluar meskipun cuaca tidak panas dan tidak sedang beraktivitas berat.Hiperhidrosis dapat dibagi menjadi dua jenis:1. Hiperhidrosis Primer Jenis ini terjadi tanpa adanya penyakit yang mendasari. Biasanya muncul sejak masa anak-anak atau remaja dan sering mengenai area tertentu, seperti : -Telapak tangan-Telapak kaki-Ketiak-Wajah atau dahi Sering kali terdapat riwayat serupa pada anggota keluarga lainnya.2. Hiperhidrosis Sekunder Jenis ini terjadi akibat kondisi medis tertentu atau efek samping obat-obatan. Keringat biasanya muncul di seluruh tubuh dan dapat terjadi saat sedang tidur. Beberapa penyebab yang mungkin menyebabkan hal tersebut, antara lain :-Hipertiroid (kelenjar tiroid terlalu aktif)-Diabetes melitus-Obesitas-Menopause-Kehamilan-Infeksi tertentu-Gangguan kecemasan-Efek samping obat antidepresan, obat diabetes, atau obat tertentu lainnyaTanda-Tanda Keringat Berlebih yang Perlu Diperiksa Segera konsultasikan ke dokter apabila Anda mengalami salah satu kondisi berikut :a. Keringat berlebih muncul secara tiba-tiba tanpa sebab yang jelas.b. Keringat sangat banyak sehingga mengganggu pekerjaan, aktivitas, atau kehidupan sosial.c. Sering terbangun di malam hari karena tubuh menjadi basah oleh keringat.d. Keringat berlebih disertai penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas.e. Disertai keluhan jantung berdebar, tremor, atau mudah merasa panas.f. Disertai demam yang berkepanjangan.g. Menimbulkan rasa malu, stres, atau turunnya rasa kepercayaan diri.h. Keringat berlebih yang disertai nyeri dada, sesak napas, pusing, atau mual. Kondisi ini memerlukan penanganan medis segera.Bagaimana Cara Mengatasinya? Beberapa langkah sederhana yang dapat membantu mengurangi keringat berlebih antara lain :1. Menggunakan antiperspiran secara rutin.2. Memakai pakaian yang longgar dan mudah menyerap keringat.3. Menghindari makanan yang terlalu pedas jika menjadi pemicu.4. Mengurangi konsumsi kafein dan alkohol.5. Mengelola stres dengan relaksasi atau olahraga teratur.6. Menjaga berat badan tubuh yang ideal. Pada kasus yang lebih berat, dokter dapat memberikan terapi khusus seperti obat-obatan, suntikan botulinum toxin (Botox), iontophoresis, hingga tindakan medis tertentu sesuai dengan penyebabnya. Berkeringat adalah proses alami yang penting bagi tubuh. Namun, jika keringat keluar secara berlebihan tanpa pemicu yang jelas, terjadi secara terus-menerus, mengganggu aktivitas sehari-hari, atau disertai gejala lain yang mengkhawatirkan, kondisi tersebut tidak boleh diabaikan. Mengenali tanda-tanda sejak dini dapat membantu menemukan penyebab yang mendasari dan mendapatkan penanganan yang tepat. Ingat, tubuh sering kali memberikan sinyal ketika ada sesuatu yang perlu diperhatikan termasuk melalui keringat yang berlebihan. Semoga artikel ini bermanfaat bagi Anda, dan jika ada yang ingin didiskusikan lebih lanjut, kami siap membantu. Silahkan download aplikasi konsuldong, dan hubungi dokter-dokter yang akan dengan senang hati membantu Anda. Referensi :-https://www.nhsinform.scot/illnesses-and-conditions/skin/skin-conditions/excessive-sweating-hyperhidrosis/? -https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/hyperhidrosis/symptoms-causes/syc-20367152?

Mengapa Penderita Diabetes Sering Kebas dan Kesemutan? Ini Fakta Mengejutkan yang Jarang Diketahui! Pernahkah Anda atau anggota keluarga yang mengidap diabetes mengeluhkan kaki atau tangan yang sering terasa kebas, mati rasa, atau kesemutan seperti ditusuk-tusuk jarum? Banyak orang mengira kondisi ini hanyalah masalah "darah kurang lancar" akibat kolesterol atau karena posisi duduk yang salah. Padahal, bagi penderita diabetes, kebas dan kesemutan adalah alarm bahaya dari tubuh yang menandakan adanya kerusakan saraf yang dalam dunia medis disebut Neuropati Diabetik. Menariknya, rahasia di balik kerusakan saraf ini ternyata berkaitan erat dengan hilangnya sebuah vitamin penting dari dalam tubuh, yaitu Vitamin B1. Bagaimana hal itu bisa terjadi? Mari kita bedah dengan cara yang paling sederhana. Bayangkan tubuh kita adalah sebuah pabrik, dan makanan (gula) yang kita makan adalah bahan bakarnya. Agar pabrik bisa berjalan, bahan bakar ini harus dibakar sampai habis agar menjadi energi. Nah, di dalam tubuh, Vitamin B1 berfungsi sebagai "petugas pembakar" yang bertugas mengubah gula menjadi energi siap pakai. Pada orang sehat, tubuh memiliki kadar Vitamin B1 yang cukup dan gula dibakar dengan tuntas sehingga tubuh menjadi bertenaga dan saraf bekerja dengan aman. Pada penderita diabetes, terjadi sebuah fenomena yang mengejutkan karena kadar gula darah terlalu tinggi dan berlangsung lama, sehingga ginjal dipaksa bekerja ekstra keras untuk membuang kelebihan gula tersebut melalui air kencing. Sayangnya, saat menyaring gula, ginjal penderita diabetes ini juga ikut membuang Vitamin B1 secara massal (bisa 16 hingga 24 kali lipat lebih banyak dari orang normal). Akibatnya, penderita diabetes mengalami "kebocoran" Vitamin B1 sehingga tubuh akan kehabisan petugas pembakar gula dan tubuh pun menjadi kurang bertenaga.Apa Dampaknya Jika Tubuh Kehabisan Vitamin B1? Ketika Vitamin B1 kemudian jumlahnya turun banyak atau habis, gula yang menumpuk di dalam tubuh tidak bisa dibakar sampai tuntas. Ibarat membakar sampah basah, proses pembakaran yang setengah-setengah ini menghasilkan asap beracun dan jelaga (sampah metabolik) di dalam sel.Zat beracun hasil sisa pembakaran gula ini kemudian:1. Menyumbat pembuluh darah kecil yang bertugas memberi makan saraf.2. Karena aliran darah tersumbat, saraf-saraf di ujung kaki dan tangan menjadi "kelaparan" dan kekurangan oksigen.3. Lama-kelamaan, saraf tersebut mulai rusak dan mati. Inilah alasan mengapa muncul sensasi kebas, mati rasa, atau kesemutan yang tidak kunjung hilang.Mengapa Vitamin B1 Biasa Saja Tidak Cukup? Mendengar fakta ini, Anda mungkin berpikir, "Kalau begitu, solusinya tinggal minum suplemen Vitamin B1 biasa yang banyak dijual di apotik, kan?" Sayangnya, tidak semudah itu! Vitamin B1 biasa yang beredar di pasaran umumnya bersifat larut dalam air. Sifat larut air ini membuat tubuh memiliki batas maksimal dalam menyerapnya. Jika penderita diabetes minum Vitamin B1 biasa dalam dosis tinggi, sebagian besar vitamin tersebut akan langsung dibuang lagi lewat air kencing sebelum sempat memperbaiki saraf. Di sinilah teknologi medis modern memberikan solusi berupa suatu jenis vitamin B1 yaitu Benfotiamine.Apa itu Benfotiamine? Benfotiamine adalah Vitamin B1 versi khusus yang telah dimodifikasi agar larut dalam lemak. Mengapa harus larut dalam lemak? Karena dinding sel saraf manusia sebagian besar terdiri dari lapisan lemak.-Vitamin B1 biasa larut dalam air, sehingga ketika mencoba menembus lapisan lemak akan sangat sulit masuk ke dalam saraf.-Benfotiamine, Vitamin B1 khusus larut lemak, dapat menembus dinding sel saraf dengan sangat mudah dan cepat. Begitu berhasil masuk ke dalam sel saraf, Benfotiamine bertindak seperti "pasukan pembersih". Ia mengaktifkan enzim khusus yang bertugas menyapu bersih sampah-sampah beracun sisa gula yang menyumbat tadi. Hasilnya, aliran darah ke saraf menjadi kembali lancar, dan kerusakan saraf yang menyebabkan kebas bisa dicegah serta diperbaiki secara bertahap.Jangan Tunggu Sampai Mati Rasa, Bertindaklah Sekarang! Saraf yang sudah rusak total akan jauh lebih sulit untuk disembuhkan. Oleh karena itu, jangan abaikan setiap sinyal kesemutan atau kebas yang Anda rasakan. Menjaga pola makan, mengontrol kadar gula darah, dan memberikan nutrisi yang tepat seperti Benfotiamine adalah investasi terbaik untuk masa tua yang bebas dari keterbatasan gerak. Ingin tahu lebih banyak tentang dosis Benfotiamine yang tepat untuk kondisi Anda, atau ingin berkonsultasi langsung mengenai keluhan diabetes lainnya? Yuk, ambil langkah pertama untuk perlindungan saraf Anda hari ini! Unduh aplikasi KonsulDong di smartphone Anda. Lewat KonsulDong, Anda bisa terhubung langsung dengan dokter profesional kapan saja dan di mana saja. Mari bersama-sama kita lebih banyak belajar demi hidup yang lebih sehat, aktif, dan bermakna!Sumber:a. https://www.webmd.com/diabetes/benfotiamine-overviewb. https://www.verywellhealth.com/benfotiamine-89417

Social Media Fatigue: Mengapa Media Sosial Bisa Membuat Kita Lelah? Media sosial telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Kita menggunakannya untuk berkomunikasi, mencari informasi, bekerja, mengikuti berita, hingga mendapatkan hiburan. Namun, pernahkah Anda merasa sudah seharian bermain media sosial tetapi justru merasa semakin lelah? Bukan hanya mata yang terasa lelah. Sebagian orang bahkan dapat mengalami kejenuhan, kesulitan dalam berkonsentrasi, kewalahan oleh banyaknya informasi, hingga membandingkan diri dengan orang lain, atau merasa cemas setelah terlalu lama membuka media sosial. Penelitian menunjukkan bahwa penggunaan media digital yang lebih tinggi berkaitan dengan kualitas tidur yang lebih buruk. Sebuah systematic review dan meta-analysis yang mencakup 55 studi dan lebih dari 41.000 peserta menemukan adanya hubungan antara penggunaan media elektronik dengan penurunan kualitas tidur serta peningkatan masalah tidur. Apa Itu Social Media Fatigue? Social media fatigue dapat dipahami sebagai kondisi ketika seseorang merasa lelah secara mental maupun emosional akibat interaksi dengan media sosial. Pemicu tidak selalu karena durasi aktivitas di media sosial yang lama. Apa yang dilihat, bagaimana seseorang berinteraksi, dan bagaimana perasaannya setelah menggunakan media sosial juga berperan.Misalnya:a. Terlalu banyak notifikasi. b. Merasa harus selalu membalas pesan. c. Terpapar berita negatif secara terus-menerus. d. Melihat kehidupan orang lain yang tampak lebih sukses. e. Merasa harus mengikuti tren. f. Takut tertinggal informasi atau fear of missing out (FOMO). g. Terlibat dalam perdebatan di media sosial. h. Terlalu sering berpindah-pindah aplikasi. i. Menggunakan media sosial sebagai pelarian ketika stres atau bosan di dunia nyata. Mengapa Media Sosial Bisa Membuat Kita Lelah?1. Otak terus menerima informasi Media sosial dirancang untuk menghadirkan informasi secara terus-menerus. Dalam beberapa menit saja seseorang dapat berpindah dari berita, video hiburan, percakapan, iklan, hingga informasi yang mengkhawatirkan.Perpindahan informasi yang cepat dapat membuat seseorang merasa mental overload, terutama ketika tidak ada waktu untuk benar-benar beristirahat dari stimulasidigital.2. Terlalu banyak notifikasi Notifikasi pesan, komentar, likes, email, dan berita membuat perhatian kita terus terpecah.Meskipun tidak semua notifikasi dibuka, suara atau getaran ponsel dapat memicu dorongan untuk memeriksa perangkat.3. Kebiasaan membandingkan diri Media sosial sering menampilkan versi terbaik dari kehidupan seseorang.Kita melihat: orang lain sukses, tubuh ideal, liburan, pekerjaan bagus, rumah bagus, hubungan romantis, atau pencapaian tertentu. Padahal, yang ditampilkan biasanya hanya sebagian kecil dari kehidupan mereka. Jika terlalu sering membandingkan diri dengan konten tersebut, seseorang dapat merasa tidak cukup baik, tertinggal, atau bahkan tidak bahagia dengan kehidupannya sendiri. Pada remaja, perhatian terhadap dampak media sosial bahkan menjadi isu kesehatan masyarakat. U.S. Surgeon General menyatakan bahwa bukti yang ada saat ini menunjukkan adanya risiko bermakna terhadap kesehatan mental anak dan remaja, meskipun media sosial juga memiliki manfaat. 4. FOMO atau Fear of Missing Out Pernah merasa harus membuka media sosial karena takut ada sesuatu yang terlewat?Misalnya:1. takut ketinggalan berita.2. takut tidak mengetahui tren terbaru.3. khawatir teman sedang berkumpul tanpa kita.4. merasa harus selalu mengikuti percakapan.5. terus mengecek apakah ada pesan atau notifikasi baru. Kebiasaan tersebut dapat membuat otak sulit benar-benar "offline".5. Paparan berita negatif Berita mengenai konflik, bencana, kriminalitas, penyakit, atau berbagai peristiwa negatif dapat muncul berkali-kali dalam satu hari. Jika seseorang terus-menerus mengonsumsi konten negatif, terutama ketika sedang mengalami stres, hal tersebut dapat membuat pikiran terasa semakin penuh.Tanda-Tanda Anda Mengalami Social Media Fatigue Beberapa tanda yang dapat diperhatikan antara lain:-merasa lelah setelah menggunakan media sosial; -merasa jenuh melihat konten yang sama; -sulit berhenti scrolling; -sering membuka media sosial tanpa tujuan; -merasa cemas ketika tidak memegang ponsel; -mudah terdistraksi; -sulit berkonsentrasi; -merasa kesal dengan banyaknya notifikasi; -sering membandingkan diri dengan orang lain; -merasa bersalah karena terlalu lama bermain media sosial; -tidur lebih larut karena scrolling; -merasa kurang puas setelah menggunakan media sosial. Tidak semua orang yang mengalami satu atau dua tanda tersebut berarti mengalami gangguan kesehatan mental. Namun, jika keluhan menetap dan mulai mengganggu aktivitas sehari-hari, pekerjaan, hubungan sosial, atau tidur, sebaiknya dilakukan evaluasi lebih lanjut.Hubungan Media Sosial dengan Kualitas Tidur Salah satu dampak yang perlu diperhatikan adalah gangguan tidur.Penggunaan media elektronik, termasuk smartphone dan media sosial, telah dikaitkan dengan kualitas tidur yang lebih buruk dalam berbagai penelitian. Meta-analysis yang dipublikasikan di Journal of Medical Internet Research menemukan adanya hubungan antara penggunaan media elektronik dan penurunan kualitas tidur, dengan hubungan yang lebih kuat pada penggunaan yang bermasalah. Masalahnya dapat terjadi melalui beberapa mekanisme:Scrolling → tidur lebih larut → durasi tidur berkurang → tubuh kurang pulih → kelelahan pada siang hari.Akibatnya, seseorang dapat mengalami:1. mengantuk pada siang hari; 2. sulit fokus; 3. mudah lelah; 4. mudah marah; 5. produktivitas menurun. Pada tahun 2026, perhatian terhadap penggunaan layar berlebihan juga semakin besar. U.S. Surgeon General menerbitkan advisory mengenai dampak penggunaan layar berlebihan pada anak dan remaja, termasuk kaitannya dengan masalah tidur dan kesehatan mental. Apakah Harus Berhenti Menggunakan Media Sosial?Tidak selalu.Media sosial juga mempunyai manfaat, seperti:a. menjaga hubungan dengan keluarga dan teman; b. memperoleh informasi; c. mendukung komunitas; d. mendapatkan edukasi; e. mengembangkan bisnis; f. membangun jaringan profesional; g. mendapatkan dukungan sosial. Yang lebih penting adalah membangun hubungan yang sehat dengan media sosial.Cara Mengatasi Social Media Fatigue1. Matikan notifikasi yang tidak penting Tidak semua aplikasi perlu memberikan notifikasi secara real-time.Pertahankan hanya notifikasi yang benar-benar penting.2. Buat waktu khusus untuk membuka media sosialMisalnya:-Pagi: 15-20 menit-Siang: 15-20 menit-Malam: 15-20 menit Tujuannya bukan harus mengikuti angka tertentu, tetapi mencegah penggunaan yang berlangsung tanpa disadari.3. Hindari scrolling sebelum tidur Cobalah membuat digital-free time sebelum tidur.Gunakan waktu tersebut untuk:a. membaca buku; b. mandi; c. melakukan peregangan ringan; d. berbincang dengan keluarga; e. relaksasi; f. mempersiapkan tidur. 4. Kurangi akun yang membuat Anda stresTidak semua akun harus diikuti. Jika konten tertentu membuat Anda terus membandingkan diri, cemas, atau marah, pertimbangkan untuk:mute → unfollow → block, jika memang diperlukan.5. Lakukan digital detox secara berkalaTidak harus langsung satu hari penuh.Mulailah dengan:30 menit → 1 jam → beberapa jam tanpa media sosial. Gunakan waktu tersebut untuk aktivitas offline.6. Perhatikan alasan Anda membuka media sosialSebelum membuka aplikasi, tanyakan:"Saya membuka media sosial karena membutuhkan sesuatu atau hanya karena bosan?" Pertanyaan sederhana ini dapat membantu meningkatkan kesadaran terhadap kebiasaan scrolling.Kapan Sebaiknya Konsultasi ke Dokter atau Psikolog? Segera pertimbangkan konsultasi apabila penggunaan media sosial mulai disertai:-kecemasan yang menetap; -suasana hati terus menurun; -gangguan tidur berat; -sulit menjalankan pekerjaan atau aktivitas harian; -kehilangan minat terhadap aktivitas yang sebelumnya disukai; -menarik diri dari lingkungan sosial; -sulit mengendalikan penggunaan internet/media sosial; -konflik dengan keluarga atau pasangan akibat penggunaan media sosial. Pada kondisi tertentu, keluhan yang tampak seperti "kelelahan karena media sosial" juga dapat berkaitan dengan gangguan kecemasan, depresi, burnout, gangguan tidur, atau masalah kesehatan lainnya, sehingga perlu evaluasi secara menyeluruh.Jangan Menunggu Sampai Kelelahan Mengganggu Aktivitas Kesehatan bukan hanya tentang tidak memiliki penyakit fisik. Kesehatan mental dan kualitas hidup juga perlu diperhatikan. Jika Anda merasa akhir-akhir ini lebih mudah lelah, sulit tidur, sering cemas, atau merasa kewalahan dengan aktivitas sehari-hari, jangan langsung menyimpulkan bahwa penyebabnya hanya media sosial. Keluhan yang menetap sebaiknya dibicarakan dengan tenaga kesehatan agar penyebabnya dapat dievaluasi dengan tepat.Social media fatigue bukan sekadar bosan bermain media sosial. Penggunaan media sosial yang terlalu intens atau terasa membebani dapat berkontribusi terhadap kelelahan mental, distraksi, stres, dan gangguan tidur. Media sosial tidak harus dihindari sepenuhnya. Yang penting adalah menggunakannya secara sadar, menetapkan batasan, menjaga waktu tidur, dan tetap menyediakan ruang untuk aktivitas offline. Jika rasa lelah, cemas, sulit tidur, atau perubahan suasana hati terus berlangsung dan mengganggu kehidupan sehari-hari, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan tenaga kesehatan.Konsultasi Kesehatan Lebih Mudah dengan Konsuldong Tidak selalu mudah untuk datang langsung ke fasilitas kesehatan ketika sedang sibuk, bekerja, mengurus anak, atau berada jauh dari dokter. Konsuldong hadir untuk membantu Anda mendapatkan akses konsultasi kesehatan dengan lebih mudah.Melalui Konsuldong, Anda dapat berkonsultasi mengenai berbagai keluhan kesehatan dan mendapatkan arahan dari tenaga medis secara lebih praktis. Jangan hanya mencari diagnosis sendiri di media sosial. Informasi kesehatan di internet dapat menjadi bahan edukasi, tetapi tidak dapat menggantikan pemeriksaan dan penilaian dokter. Punya keluhan kesehatan? Konsultasikan dengan dokter melalui Konsuldong. Lebih mudah bertanya, lebih tepat mendapatkan arahan, dan lebih tenang mengambil langkah berikutnya.Referensi :a. U.S. Surgeon General. Social Media and Youth Mental Health Advisory. U.S. Department of Health & Human Services. b. U.S. Surgeon General. The Harms of Screen Use: Advisory and Toolkit. U.S. Department of Health & Human Services, 2026. c. Han X, Zhou E, Liu D. Electronic Media Use and Sleep Quality: Updated Systematic Review and Meta-Analysis. Journal of Medical Internet Research. 2024;26:e48356. d. Conceptualizing and Measuring Social Media Use in Health and Well-being Studies: Systematic Review. JMIR.
Baik Anda ingin menghadirkan layanan kesehatan bagi organisasi maupun mulai menggunakan aplikasi sebagai individu, Konsuldong siap membantu.
Perlindungan data dan informasi Anda adalah prioritas kami.