Update Artikel Kesehatan Terbaru

dr. Christian

admin

Peran Musik dan Seni dalam Terapi Depresi

Health

4 minggu yang lalu

Ditinjau oleh Redaksi KonsuldongPeran Musik dan Seni dalam Terapi Depresi Depresi bukan sekadar rasa sedih yang mendalam, namun hal tersebut juga dapat mempengaruhi suasana hati, energi, kualitas tidur, dan kemampuan menjalani aktivitas sehari-hari. Selain terapi psikologis dan obat-obatan, intervensi berbasis musik dan seni menawarkan jalur alternatif atau pelengkap terapi yang aman dan dapat meningkatkan kualitas hidup penderita depresi. Mari kita lihat bagaimana musik dan seni bekerja dalam terapi kejiwaan, bagaimana contoh penerapannya yang praktis dalam kehidupan sehari - hari, hingga catatan penting pengaruh musik dan seni untuk kondisi pasien.Mengapa musik dan seni bisa membantu depresi? Musik dan seni memberikan tempat bagi setiap orang untuk dapat mengekspresikan emosinya yang kadang sulit untuk diungkapkan dengan kata-kata. Proses mendengarkan, memainkan alat, menyanyi, melukis, atau membuat karya seni akan mengaktifkan sistem pengaturan emosi dan reward di otak. Hal ini berfungsi untuk menurunkan respons stres, membantu regulasi afektif, koneksi sosial, dan semua faktor yang berperan dalam proses pemulihan dari depresi. Selain itu, aktivitas kreatif juga dapat memberikan rasa pencapaian, makna, dan struktur harian yang sering kali hilang pada penderita depresi.Bukti ilmiah singkat (apa kata penelitian?) Beberapa tinjauan sistematis dan meta-analisis menunjukkan adanya efek positif dari terapi musik terhadap gejala depresi dalam jangka pendek. Misalnya, meta-analisis dan review Cochrane menemukan bahwa terapi musik dapat memberikan manfaat nyata pada pengurangan gejala depresi, meskipun kualitas studi dapat bervariasi. Untuk “visual art therapy” atau intervensi seni kelompok/aktif, kajian sistematis terbaru juga melaporkan adanya hasil yang menjanjikan dari terapi tersebut pada beberapa outcome kesehatan jiwa, termasuk gejala depresi, terutama bila diterapkan secara terstruktur dan dikombinasikan dengan perawatan konvensional. Namun, banyak studi memiliki keterbatasan metodologis sehingga rekomendasi terapi ini sangat harus berhati-hati juga. Bentuk intervensi yang umum dan contoh pelaksanaannya1. Music therapy (terapi musik)-Active (berpartisipasi: menyanyi, memainkan alat sederhana, improvisasi) atau receptive (mendengarkan musik yang dipilih, analisis lagu).-Diterapkan secara individu atau kelompok oleh instruktur musik bersertifikat atau sebagai bagian dari program komunitas. 2. Art therapy (terapi seni visual)-Meliputi melukis, menggambar, kolase, atau kerja materi lain yang dipandu oleh terapis seni untuk mengeksplorasi emosi, memori, dan narasi personal dari penderita depresi.-Bisa menjadi tambahan pada terapi kognitif atau pengobatan antidepresan dalam setting klinis maupun komunitas. 3. Intervensi kelompok berbasis seni-Workshop kreatif atau kelompok bernyanyi/choral dapat meningkatkan rasa kebersamaan dan mengurangi isolasi sosial, yang merupakan faktor penting pada perawatan pasien dengan depresi.Untuk siapa dan kapan waktu yang tepat?-Terapi musik dan seni digunakan sebagai pelengkap untuk orang dengan tingkat depresi ringan - sedang, atau sebagai pendukung psiko-sosial pada pasien dengan depresi berat yang sudah mendapat pengobatan medis. -Kurangi ekspektasi : terapi musik ini bukanlah pengganti wajib untuk terapi psikologis dari profesional medis atau obat, terutama bila ada indikasi klinis (misalnya, depresi berat atau ide bunuh diri). Jangan lupa untuk selalu diskusikan rencana terapi dengan dokter atau psikiater.Tips praktis-Mulai dari langkah kecil : mulai dari 15–30 menit mendengarkan playlist favorit atau satu sesi menggambar tanpa tujuan estetis.-Pilih aktivitas yang terasa aman dan mudah : bernyanyi bersama teman, ikut kelas seni komunitas, atau mengikuti sesi musik terstruktur di fasilitas kesehatan.-Jika tersedia, ikuti program yang dipandu oleh terapis terlatih (music/art therapist) terutama bila ada trauma atau masalah emosional yang kompleks.-Pantau reaksi : jika aktivitas ini memicu emosi yang tidak terkontrol atau memperburuk mood, hentikan dan segera konsultasikan dengan dokter / tenaga medis profesional.  Musik dan seni bukan sekadar hiburan saja, Namun ini adalah sarana terapeutik yang dapat memberikan ruang bagi ekspresi, regulasi emosi, dan koneksi sosial yang dapat mendukung pemulihan pasien dari depresi. Bukti klinis menunjukkan adanya janji yang nyata, khususnya sebagai pelengkap dari perawatan konvensional. Untuk pasien dan tenaga kesehatan, pendekatan terapi model ini yang terstruktur, aman, dan terintegrasi adalah kunci agar manfaat kreativitas ini dapat berjalan optimal. Semoga artikel ini bermanfaat bagi Anda, dan jika ada yang ingin didiskusikan lebih lanjut, kami siap membantu. Silahkan download aplikasi konsuldong, dan hubungi dokter-dokter yang akan dengan senang hati membantu Anda. Referensi :1.     https://www.cochranelibrary.com/cdsr/doi/10.1002/14651858.CD004517.pub3/full? 2.     https://jamanetwork.com/journals/jamanetworkopen/fullarticle/2823638? 

Self Harm: Mengapa Seseorang Menyakiti Diri Sendiri?

Ditinjau oleh Redaksi Konsuldong“Self Harm: Mengapa Seseorang Menyakiti Diri Sendiri?” Pernahkah kamu mendengar istilah self-harm dan bertanya-tanya, “Kenapa seseorang bisa menyakiti dirinya sendiri?” Bukan hanya tentang luka fisik yang kecil, self-harm juga mencerminkan keresahan batin, rasa sakit secara emosional, atau keinginan untuk melampiaskan sesuatu yang sulit diucapkan. Meski sering dianggap tabu atau disembunyikan, memahami latar belakangnya adalah langkah awal untuk membantu diri sendiri atau orang terdekat anda.Apa Itu Self Harm Self-harm adalah tindakan menyakiti diri sendiri secara sengaja, bisa berupa memotong, menggores, membakar, atau menggunakan benda tajam/keras terhadap tubuh sendiri.  Ada yang melakukannya dengan maksud bunuh diri (suicidal intent), tetapi banyak juga yang melakukannya tanpa niat tersebut (non-suicidal self-injury / NSSI) sebagai cara untuk mengelola emosi atau kondisi psikologisnya. Seberapa Umum Self Harm-Di kalangan remaja (usia 12–18 tahun), prevalensi lifetime self harm sekitar 16,9% menurut meta-analisis dari banyak negara. -Studi global menunjukkan bahwa NSSI (non-suicidal self-injury) terjadi pada sekitar 17,7% dari remaja usia 10-19 tahun. -Di Australia misalnya, data rumah sakit menunjukkan bahwa perempuan muda banyak yang masuk rumah sakit akibat self-harm (lebih sering dibanding laki-laki), terutama kelompok usia remaja dan dewasa muda (15-24 tahun). Faktor PenyebabBerikut beberapa penyebab mengapa seseorang bisa menyakiti diri sendiri, antara lain:1. Emosi negatif yang tertekan, misalnya : perasaan sedih yang mendalam, rasa bersalah, rasa malu, atau kemarahan yang terlalu di pendam dan akhirnya meledak.2. Trauma dan kekerasan : pengalaman kekerasan fisik, seksual, emosional, atau pelecehan serta perasaan kehilangan atau pengabaian.3. Kesulitan mengelola & mengekspresikan perasaan : belum punya cara yang tepat dan sehat untuk melepaskan stres, perasaan kesepian, frustrasi, atau tekanan hidup. Self harm bisa terasa sebagai “jalan keluar” sementara.4. Kontrol & sensasi melepaskan : ada yang mengatakan self harm memberikan sensasi kontrol jika hidup terasa kacau, atau sekadar merasakan sesuatu kalau selama ini merasa “kosong.”5. Gangguan mental: kondisi seperti depresi, kecemasan, gangguan kepribadian (misalnya Borderline Personality Disorder / BPD), atau gangguan stres dan trauma.Tanda yang Perlu DiwaspadaiBeberapa sinyal bahwa self-harm mungkin sedang terjadi, antara lain :-Terdapat Luka atau bekas luka yang sulit dijelaskan, biasanya di lengan, pergelangan, paha.-Pakaian yang digunakan cenderung untuk menyembunyikan bagian tubuh tertentu, meskipun cuaca sedang panas atau tidak nyaman.-Menghindar dari aktivitas sosial, menarik diri dari teman/keluarga.-Suasana hati berubah drastis, merasa gelisah, merasa bersalah, atau depresi.-Berbicara dengan menunjukkan tanda-tanda bahwa hidup tidak berarti atau timbul keinginan untuk “menghancurkan diri sendiri.”Apa yang Bisa Dilakukan -Mencari dukungan : mendapatkan dukungan dari teman, keluarga, guru, konselor, atau professional adalah hal yang sangat penting. Mereka perlu memiliki orang yang bisa dipercaya dan dapat mendengarkan tanpa menghakimi.-Terapis atau psikolog bisa membantu melalui terapi psikologis seperti Cognitive-Behavioral Therapy (CBT), terapi Dialektik Perilaku (DBT), atau terapi trauma.-Kembangkan cara alternatif untuk melepaskan emosi : menulis jurnal, menggambar, olahraga, atau teknik relaksasi seperti pernapasan dalam dan meditasi.-Hindari pemicu: bila ada situasi, lingkungan, atau konten media yang memperparah perasaan perasaan negatif, hindarilah.-Bila sudah merasa sangat tertekan, memiliki pikiran untuk bunuh diri, atau melakukan tindakan self-harm yang semakin parah, sebaiknya segera cari bantuan professional.  Self-harm bukanlah kelemahan, melainkan sinyal bahwa seseorang membutuhkan bantuan, baik dari diri sendiri maupun orang lain di sekitarnya. Dengan lebih terbuka membicarakannya, memahami penyebab, serta menyediakan dukungan yang tepat, kita bisa membantu mencegah luka itu menjadi lebih dalam. Jika kamu atau seseorang yang kamu kenal mengalami keinginan untuk menyakiti diri sendiri, jangan menunda. Namun ajaklah bicara, temani untuk mencari bantuan tenaga professional kesehatan, dan beritahu bahwa mereka tidak sendirian. Semoga artikel ini bermanfaat bagi Anda, dan jika ada yang ingin didiskusikan lebih lanjut, kami siap membantu. Silahkan download aplikasi konsuldong, dan hubungi dokter-dokter yang akan dengan senang hati membantu Anda. Referensi :1.    https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/31752375/2.    https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/30274648/

Health

4 minggu yang lalu

Saat Autisme Bukan Lagi Bug, Melainkan Fitur Terbaik dalam Diri

Ditinjau oleh Redaksi KonsuldongSaat Autisme Bukan Lagi Bug, Melainkan Fitur Terbaik dalam Diri Selama beberapa dekade, autism spectrum disorder (ASD) dilihat melalui lensa defisit. Apa yang tidak bisa dilakukan individu autistik, tantangan komunikasi yang mereka hadapi, atau perilaku yang dianggap tidak normal. Namun kini, sebuah revolusi perspektif sedang terjadi di seluruh dunia. Pendekatan baru yang disebut neurodiversitas menolak pandangan tersebut. Neurodiversitas adalah gagasan bahwa variasi dalam fungsi otak, termasuk autisme, sama alaminya dan berharganya dengan variasi biologis manusia lainnya. Dalam pandangan ini, autisme bukan lagi bug (kesalahan), melainkan sebuah fitur kognitif yang, jika dipahami dan didukung dengan benar, menawarkan serangkaian kekuatan unik yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat modern, terutama di era teknologi dan data.Menggeser Paradigma: Kekuatan dalam Spektrum Model yang paling mendasari pandangan ini adalah model kekuatan (The Strength-Based Model). Model ini secara eksplisit mengalihkan fokus dari kelemahan (misalnya, kesulitan kontak mata) pada keunggulan yang menyertai profil neurologis autistik. Banyak ciri khas autistik yang sering dianggap sebagai hambatan sosial, justru menjelma menjadi keunggulan profesional di lingkungan kerja yang tepat seperti berikut:1. Keahlian dalam Pengenalan Pola (Pattern Recognition) Otak autistik sering kali dihubungkan dengan kemampuan yang lebih tinggi dalam memproses informasi detail dan menemukan pola dalam data yang kompleks.Penerapan: Dalam analisis data, keamanan siber, atau software testing, kemampuan ini sangat berharga. Seorang individu autistik bisa menemukan anomali atau bug kecil dalam ribuan baris kode yang luput dari perhatian mata neurotipikal. Inilah mengapa perusahaan seperti SAP dan Microsoft secara aktif merekrut individu autistik untuk tim pengujian kualitas dan analisis mereka.2. Fokus Hiper-Intensif (Hyper-Focus) Ketika seorang individu autistik memiliki minat khusus (special interest) pada suatu subjek, mereka mampu mempertahankan tingkat konsentrasi yang sangat tinggi tanpa gangguan, jauh melebihi rata-rata.Penerapan: Dalam dunia kerja, ini berarti mereka dapat menjadi spesialis yang tak tertandingi dalam bidang keahlian mereka, apakah itu dalam pemrograman, riset ilmiah, atau desain sistem yang rumit. Mereka unggul dalam pekerjaan yang memerlukan ketelitian jangka panjang. 3. Pemikiran Logis dan Sistematis Banyak individu autistik memiliki kecenderungan alami terhadap keteraturan, sistem, dan logika. Mereka sering merasa nyaman dengan data yang terstruktur dan kurang ambigu.Penerapan: Ini menjadikan mereka aset tak ternilai dalam membangun database, merancang alur kerja yang efisien, dan mengembangkan algoritma. Mereka tidak hanya melihat data, tetapi juga melihat struktur di balik data tersebut.Mengubah Hambatan Menjadi Lingkungan yang Adaptif Tantangan bagi individu autistik bukanlah pada kurangnya kemampuan, melainkan pada ketidaksesuaian antara profil sensorik dan komunikatif mereka dengan lingkungan kerja yang dibuat untuk orang neurotipikal. Pada Strength Based Model, individu autistik tidak diminta untuk berubah, tetapi meminta lingkungan untuk beradaptasi dengan mereka. Di banyak perusahaan maju, pendekatan ini dikenal sebagai "Neuroinclusive Design", yaitu merancang kebijakan, ruang, dan proses kerja yang tidak hanya mengakomodasi, tetapi secara aktif mengoptimalkan kinerja karyawan neurodiverse. Dengan mengadopsi Model Kekuatan, kita tidak hanya menjadi masyarakat yang lebih inklusif, tetapi juga masyarakat yang lebih inovatif. Hal ini dapat terjadi karena kita membuka diri untuk menerima cara berpikir yang berbeda, yaitu cara berpikir yang melihat detail, menemukan pola, dan menghasilkan ketepatan yang luar biasa. Saatnya kita berhenti mengukur kemampuan individu autistik dengan tolok ukur sosial dan mulai menghargai nilai kognitif unik yang mereka bawa ke dunia ini.Langkah Selanjutnya untuk Memahami Autisme Jika Anda atau orang terdekat Anda sedang dalam proses memahami autisme, baik pada anak, remaja, atau bahkan dewasa, penting untuk mendapatkan informasi dan dukungan yang tepat.Autisme adalah tentang memahami, bukan memperbaiki. Kami mengajak Anda untuk melanjutkan perjalanan pemahaman neurodiversitas ini. Silahkan baca banyak artikel-artikel sejenis yang bukan hanya menarik tetapi juga dapat membuka wawasan Anda tentang kesehatan. Mari unduh aplikasi konsuldong hari ini juga! Mari kita ciptakan masa depan yang menghargai setiap individu dengan cara berpikir yang unik!  Sumber https://www.psychologytoday.com/us/blog/divergent-minds/202301/a-strengths-based-approach-to-neurodiversityhttps://www.frontiersin.org/journals/psychology/articles/10.3389/fpsyg.2024.1326536/full 

Health

4 minggu yang lalu

Penggunaan Parasetamol Saat Hamil: Hubungannya dengan Autisme dan ADHD

Ditinjau oleh Redaksi KonsuldongPenggunaan Parasetamol Saat Hamil: Hubungannya dengan Autisme dan ADHD   Penggunaan obat pereda nyeri yang dijual bebas, seperti parasetamol selama kehamilan, telah menjadi topik perdebatan di kalangan medis dan ilmiah. Khususnya sejak tahun 2021 dan akhir-akhir ini yang mencuat kembali sejak adanya imbauan dari US FDA/ United States Food and Drug Administration di bulan September 2025 baru-baru ini. Meskipun sering dianggap aman, beberapa penelitian terbaru menimbulkan kekhawatiran tentang potensi hubungannya dengan risiko autisme dan ADHD (Attention-Deficit/Hyperactivity Disorder) pada anak.Studi dan Temuan yang Mengkhawatirkan Sebuah studi besar yang dipublikasikan di American Journal of Epidemiology menyoroti hubungan antara penggunaan parasetamol oleh ibu hamil dengan peningkatan risiko autisme dan ADHD pada anak-anak. Para peneliti mengamati bahwa paparan di masa prenatal terhadap obat ini dapat mengganggu perkembangan neurologis janin. Penelitian lain dari Harvard T.H. Chan School of Public Health juga menemukan adanya risiko yang sama. Para ahli berpendapat bahwa meskipun peningkatannya kecil, temuan ini cukup signifikan untuk mendorong para ibu hamil agar lebih berhati-hati terhadap konsumsi parasetamol. Mekanisme yang dicurigai adalah bahwa parasetamol dapat mengganggu metabolisme hormon penting yang berperan dalam perkembangan otak janin. Selain itu, sebuah surat yang ditandatangani oleh 91 ilmuwan dan dokter dari seluruh dunia menyerukan adanya pedoman baru yang lebih ketat untuk penggunaan parasetamol pada ibu hamil. Mereka meminta agar ibu hamil diberi peringatan yang jelas dan hanya menggunakan obat ini saat benar-benar diperlukan dan dengan dosis efektif terendah.Apa yang Harus Dilakukan? Meskipun temuan-temuan ini menimbulkan kekhawatiran, penting untuk memahami bahwa studi-studi tersebut hanya menunjukkan hubungan, bukan sebab-akibat. Artinya, ada korelasi, tetapi tidak ada bukti pasti bahwa parasetamol secara langsung menyebabkan autisme atau ADHD. Para ahli menyarankan agar ibu hamil tetap bisa menggunakan parasetamol untuk mengatasi demam atau nyeri hebat. Namun, ada beberapa pedoman penting yang harus diikuti:1. Gunakan dengan bijak. Jangan mengkonsumsi parasetamol secara rutin atau dalam jangka panjang. Gunakan hanya saat benar-benar diperlukan.2. Selalu gunakan dosis efektif terendah dan sesingkat mungkin.3. Sebelum mengonsumsi obat apa pun saat hamil, termasuk parasetamol, selalu konsultasikan dengan dokter kandungan Anda. Dokter akan membantu menimbang antara manfaat dan risiko berdasarkan kondisi kesehatan Anda.4. Perhatikan juga kandungan tambahan yang ada di dalam produk. Agar aman, sebisa mungkin hindari konsumsi paracetamol yang mengandung campuran kodein, aspirin, atau obat anti inflamasi non steroid lainnya.   Sebagai perbandingan, demam tinggi saat hamil juga bisa berbahaya bagi janin. Dalam kasus ini, penggunaan parasetamol di bawah pengawasan dokter mungkin menjadi pilihan yang lebih aman dibandingkan membiarkan demam tidak diobati.Kesimpulan Bukti ilmiah tentang hubungan antara parasetamol dan autisme atau ADHD masih terus berkembang dan belum konklusif. Namun, temuan ini memberikan alasan kuat untuk lebih berhati-hati. Selalu berdiskusi dengan dokter Anda adalah langkah terbaik untuk memastikan kesehatan Anda dan bayi Anda. Untuk mendapatkan nasihat medis yang tepat dan terpercaya sesuai kondisi Anda, jangan ragu untuk berdiskusi langsung dengan ahlinya. Unduh aplikasi Konsuldong sekarang dan hubungkan diri Anda dengan dokter profesional yang siap memberikan bimbingan serta rekomendasi terbaik seputar penggunaan obat saat kehamilan, kapan pun dan di mana pun.   Sumber:https://www.healthline.com/health-news/tylenol-autism-link-trump-administrationhttps://www.nature.com/articles/s41574-021-00553-7https://hsph.harvard.edu/news/using-acetaminophen-during-pregnancy-may-increase-childrens-autism-and-adhd-risk/  

Health

4 minggu yang lalu

Cara Mengenali Sesak Napas Berbahaya

Ditinjau oleh Redaksi KonsuldongCara Mengenali Sesak Napas Berbahaya Sesak napas adalah keluhan yang sering membuat orang panik. Banyak orang menganggap sesak napas hanya terjadi pada penderita asma, padahal faktanya ada banyak penyebab lain yang bisa lebih berbahaya. Penting untuk mengetahui kapan sesak napas masih wajar, dan kapan harus segera diperiksakan ke dokter. Yuk, kita bahas lengkap!Apa Itu Sesak Napas? Sesak napas adalah kondisi ketika seseorang merasa sulit bernapas atau seperti kekurangan udara. Kadang terasa dada seperti menjadi berat, napas terengah-engah, atau butuh usaha lebih keras untuk menarik napas.Sesak napas bisa terjadi sebentar saja, misalnya setelah berlari atau olahraga berat. Namun, jika muncul tanpa sebab yang jelas, bisa jadi itu merupakan tanda adanya penyakit serius.Penyebab Sesak NapasSesak napas bisa muncul karena banyak hal, mulai dari ringan sampai berat. Beberapa di antaranya:1. Masalah di paru-paru-Asma-Infeksi paru (pneumonia, TBC)-Penyakit paru obstruktif kronis (PPOK)-Cairan di paru (efusi pleura)2. Masalah di jantung-Gagal jantung-Serangan jantung-Gangguan irama jantung3. Masalah lain-Anemia (kurang darah)-Reaksi alergi berat (Anaphylactic shock)-Obesitas (kelebihan berat badan)-Stres dan kecemasan berlebihanTanda Sesak Napas yang Harus Diwaspadai Segera cari pertolongan medis bila sesak napas disertai dengan:-Sesak muncul tiba-tiba tanpa sebab-Nyeri dada yang menjalar ke lengan, punggung, atau rahang-Bibir atau jari-jari membiru-Tidak bisa bicara dengan lancar karena terlalu sesak-Bunyi napas berbunyi "ngik-ngik" (mengi) atau terasa berat sekali-Pusing, keringat dingin, atau hampir pingsan-Bengkak di kaki atau perut (tanda masalah jantung)Jika tanda-tanda ini muncul, jangan menunggu lama. Segera ke IGD atau hubungi tenaga medis terdekat.Apa yang Bisa Dilakukan Saat Sesak Napas? -Tetap tenang. Panik justru membuat napas menjadi semakin sulit.-Duduk tegak atau bersandar. Posisi ini membantu paru-paru lebih terbuka.-Gunakan obat sesuai anjuran dokter. Misalnya inhaler untuk penderita asma.-Cari udara segar. Hindari ruangan pengap atau berasap.-Segera ke rumah sakit bila sesak tidak membaik atau semakin berat.Cara Mencegah Sesak Napas Berulang-Berhenti merokok karena asap rokok adalah penyebab utama kerusakan paru.-Olahraga teratur untuk melatih pernapasan dan menjaga kesehatan jantung.-Kontrol rutin ke dokter bila punya riwayat penyakit jantung, asma, atau paru.-Jaga berat badan ideal agar paru dan jantung tidak bekerja terlalu keras.-Kelola stres dengan baik, karena kecemasan juga bisa memicu sesak napas.Kesimpulan Sesak napas bisa disebabkan oleh hal ringan seperti kelelahan, tapi juga bisa menjadi tanda penyakit serius seperti serangan jantung atau gagal napas. Kenali tanda-tanda berbahaya dan jangan ragu untuk segera mencari pertolongan medis. Semakin cepat ditangani, semakin baik hasilnya.Konsultasi Mudah dengan Aplikasi KonsulDong Kadang kita bingung, apakah sesak napas yang dialami berbahaya atau tidak. Daripada panik sendiri, sekarang ada KonsulDong, aplikasi kesehatan yang menghubungkan Anda langsung dengan dokter terpercaya.Dengan KonsulDong Anda bisa: ✅ Konsultasi langsung tanpa harus antre di rumah sakit ✅ Mendapatkan saran medis cepat dan tepat ✅ Tanya tentang obat, pemeriksaan, atau tindakan yang perlu dilakukan ✅ Konsultasi kapan saja, dari rumah👉 Unduh KonsulDong sekarang! Karena kesehatan Anda tidak boleh ditunda.Source:1. Mayo Clinic – Shortness of Breath: Causes2. World Health Organization (WHO) – Respiratory Diseases3. American Lung Association – Understanding Shortness of Breath4. National Heart, Lung, and Blood Institute (NHLBI) – What Is Dyspnea?

Health

1 bulan yang lalu

Lihat Semua Artikel Kesehatan
Hubungi Kami
Jl. Raya Serpong No 1B,1C, Pakulonan, Kec. Serpong Utara, Kota Tangerang Selatan, Banten 15325
Download App di

© 2025 Konsuldong, All Rights Reserved

Version : 1.2.0