dr. Christian
admin
Health
2 minggu yang lalu

Pernahkah anda berpikir “pilek saya belum reda, minum antibiotik saja biar cepat tuntas” Atau anda menyimpan sisa antibiotik untuk dipakai lagi saat sakit berikutnya? Kebiasaan yang tampak sepele ini justru mendorong lahirnya kuman super, yaitu terciptanya bakteri yang kebal antibiotik. Secara global, masalah ini sudah menelan >1,27 juta kematian langsung dan berkontribusi pada hampir 5 juta kematian di tahun 2019. Angka tersebut bukan sekadar statistik ini mencerminkan kondisi dimana orang tua, anak, dan kerabat kehilangan nyawa karena obat andalan yang biasa digunakan tak lagi mempan membunuh kuman yang ada.

Mengapa Resistensi Terjadi?
Resistensi antimikroba terjadi saat kuman (terutama bakteri) mampu mengalahkan obat yang dirancang untuk membunuhnya. Hal ini bisa di sebabkan oleh pemakaian antibiotik yang tidak tepat, misalnya dalam kondisi pemakaian untuk penyakit yang disebabkan oleh virus (flu, batuk pilek biasa), minum antibiotik tidak sesuai dosis/aturan, atau berhenti minum antibiotik sebelum waktunya. Hal ini memberikan waktu bagi bakteri untuk beradaptasi dan kebal terhadap antibiotik yang diberikan. Setiap kali antibiotik digunakan, selalu ada risiko yang mendorong resistensi dan menimbulkan efek samping.
7 Kebiasaan yang Diam-diam Memperparah Resistensi
1. Minum antibiotik untuk sakit yang disebabkan oleh virus (flu, batuk pilek tanpa komplikasi), perlu di ingat bahwa antibiotik hanya bekerja untuk bakteri.
2. Membeli antibiotik tanpa resep atau memakai sisa obat lama sebelumnya.

3. Menghentikan konsumsi antibiotik sebelum waktunya karena merasa sudah enakan kondisinya. Bakteri yang “tersisa” justru akan menjadi lebih kuat.
4. Berbagi antibiotik dengan keluarga/teman, hal ini menyebabkan dosis dan jenisnya bisa salah, dan efeknya bisa fatal.
5. Menekan dokter agar meresepkan antibiotik padahal tidak perlu.
6. Menumpuk atau menyimpan sisa antibiotik untuk “jaga-jaga” jika nanti sakit lagi. Hal ini sebaiknya tidak dilakukan dan sebaiknya sisa antibiotik dimusnahkan sesuai anjuran tenaga medis.
7. Mengabaikan pencegahan infeksi (seperti : cuci tangan, vaksinasi, kebersihan makanan / lingkungan) yang sebenarnya dapat mengurangi kebutuhan antibiotik sejak awal.
Dampaknya Nyata untuk Kita Semua
Gejala sama tetapi obat belum tentu sama. Misalnya gejala demam, batuk dan pilek bisa disebabkan oleh virus, bakteri atau alergi dan tentunya terapinya pun akan berbeda. Oleh karena itu, antibiotik sebaiknya hanya diberikan setelah mendapatkan pemeriksaan dari dokter. Di eropa, pesan utamanya sangat tegas : Jangan membeli antibiotik tanpa resep, jangan menyimpan sisa antibiotik dan jangan berbagi obat. Karena jika tidak, akan menyebabkan hal – hal yang lebih buruk, misalnya :
-Infeksi lebih sulit disembuhkan dan butuh perawatan yang lebih lama/lebih mahal.
-Operasi besar dan kemoterapi jadi lebih berisiko karena tanpa adanya antibiotik yang efektif akibat resistensi.

Kapan Antibiotik Memang Diperlukan?
Antibiotik memang penting, bahkan dapat menyelamatkan nyawa untuk infeksi bakteri serius seperti sepsis, pneumonia bakteri, infeksi saluran kemih yang berat, dan kondisi lain yang dinilai oleh dokter derajat berat. Oleh karena itu, penggunaannya harus tepat indikasi, tepat obat, tepat dosis, dan tepat durasi.
10 Langkah Emas Bijak Antibiotik
1. Jangan minum antibiotik tanpa resep dokter.
2. Ikuti dosis & durasi yang ditentukan, habiskan antibiotik sesuai anjuran meski gejala membaik.
3. Jangan meminta/menekan dokter untuk meresepkan antibiotik jika tidak perlu.
4. Jangan berbagi antibiotik dengan siapa pun.
5. Jangan simpan sisa obat, anda bisa kembalikan ke apotek sesuai prosedur.
6. Vaksinasi up to date (mis. influenza, pneumokokus) untuk mengurangi risiko infeksi dan kebutuhan antibiotik.
7. Cuci tangan dan jaga kebersihan makanan/lingkungan secara rutin.
8. Gunakan masker saat sakit dan etika yang benar saat batuk untuk mencegah penularan.
9. Tanyakan 3 hal saat diresepkan antibiotik: “Apakah ini memang perlu?”, “Antibiotik apa dan berapa lama?”, “Apa efek samping yang perlu diwaspadai?”
10. Segera kontrol kembali bila tidak ada perbaikan atau muncul gejala efek samping berat.

Antibiotik adalah “harta karun” bagi tenaga medis, tapi harta ini bisa habis manfaatnya jika kita menggunakannya sembarangan. Dengan tidak swamedikasi, mengikuti resep yang benar, dan menguatkan pencegahan infeksi, kita ikut menjaga agar antibiotik tetap ampuh untuk hari ini dan generasi mendatang. Bila sakit, periksakan diri dulu, biarkan tenaga kesehatan menilai apakah antibiotik benar-benar perlu.
Semoga artikel ini bermanfaat bagi Anda, dan jika ada yang ingin didiskusikan lebih lanjut, kami siap membantu. Silahkan download aplikasi konsuldong, dan hubungi dokter-dokter yang akan dengan senang hati membantu Anda
Referensi :
1. https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/antimicrobial-resistance
2. https://www.thelancet.com/journals/lancet/article/PIIS0140-6736(21)02724-0/fulltext
Health
2 jam yang lalu

Health
1 hari yang lalu

Health
2 hari yang lalu

Health
3 hari yang lalu

Health
4 hari yang lalu

Health
5 hari yang lalu
