dr. Christian
admin
Health
2 minggu yang lalu

Pernah minum botol berlabel isotonic setelah olahraga dan merasa seperti sedang “mengembalikan” energi? Kamu tidak sendiri. Kemasan berkilau, klaim efek cepat pulihnya, dan rasa manisnya memang menggoda. Tapi apakah isotonic water benar-benar diperlukan setelah latihan, atau hanya sekedar strategi pemasaran yang pintar? Mari kita bahas lebih lanjut!
Apa itu isotonic water?
Secara sederhana, minuman isotonic memiliki konsentrasi zat terlarut (osmolaritas) yang mirip dengan plasma darah sehingga menjelaskan perihal teorinya bahwa kandungannya diserap tubuh dengan cepat. Mereka biasanya mengandung air, karbohidrat (gula ringan), dan elektrolit seperti natrium dan kalium sebagai komposisi yang dibuat agar membantu hidrasi dan penggantian elektrolit tubuh yang terbuang saat berkeringat.

Kapan isotonic berguna?
Isotonic atau minuman karbohidrat–elektrolit (carbohydrate–electrolyte solutions) paling bermanfaat ketika seseorang melakukan aktivitas intensitas sedang-tinggi yang berlangsung >60 menit, atau saat mengalami keringat yang banyak (mis. latihan tim, lari jarak menengah, atau sesi interval panjang). Pada kondisi ini, isotonic memberikan dua manfaat utama: pasokan cairan + sumber energi cepat (karbohidrat) serta penggantian natrium sehingga membantu tubuh mempertahankan volume plasma. Pedoman nutrisi olah raga juga menyarankan perlunya penambahan sodium untuk membantu retensi cairan dan menstimulasi rasa haus.
Apa kata penelitian terbaru?
Ringkasan temuan penting dari literatur ilmiah modern adalah sebagai berikut:

Risiko dan hal yang perlu diperhatikan
Rekomendasi praktis
1. Untuk olahraga <60 menit dengan intensitas ringan–sedang: air putih biasanya cukup.
2. Untuk olahraga >60 menit, atau bila berkeringat banyak: pertimbangkan konsumsi isotonic (atau minuman karbohidrat elektrolit) untuk menggantikan cairan, natrium, dan menyediakan energi secara cepat.
3. Untuk sesi panjang/berulang (multi-hour) atau kondisi panas: evaluasi kebutuhan karbohidrat per jam dan natrium; sesuaikan porsi minuman agar tidak berlebih.
4. Perhatikan bahan: pilih produk dengan komposisi CHO sekitar 4–8% dan kandungan natrium yang sesuai (manual saran ahli gizi olahraga bisa membantu).

Sahabat atau sekadar gimmick?
Isotonic bukan sekadar gimmick bila digunakan pada konteks yang tepat seperti aktivitas >60 menit atau saat kehilangan banyak elektrolit. Namun untuk latihan singkat atau aktivitas sehari-hari, banyak klaim pemasaran berlebihan. Air putih atau pilihan hipotonic mungkin lebih efisien, lebih murah, dan lebih ramah gula. Pilihan yang bijak dengan menyesuaikan kebutuhan latihan, durasi, intensitas, cuaca, dan preferensi pribadi.
Jika kamu mau tahu apakah kamu butuh isotonic setelah sesi latihanmu, Konsuldong bisa bantu kamu konsultasi singkat dengan dokter untuk menilai tingkat keringat, intensitas latihan, dan rekomendasi hidrasi personal. Cukup buka aplikasi Konsuldong, jelaskan gaya latihmu, dan dapatkan saran praktis yang mudah untuk diikuti. Yuk Download Konsuldong sekarang!
Referensi:
1. Pérez-Castillo, Í. M., et al. (2023). Compositional aspects of beverages designed to promote central hydration: Implications for athletes and formulation considerations. Nutrients, 16(1), 17.
2. Rowlands, D. S., et al. (2021). The hydrating effects of hypertonic, isotonic and hypotonic sports drinks and waters on central hydration during continuous exercise: A systematic review and meta-analysis. (PMC8803723).
3. Górniak, A., Gizińska, N., & colleagues. (2025). The role of hypotonic and isotonic drinks in supporting hydration and recovery in team sport athletes: A literature review. Medical Science, 29(161), 1–8.
Health
2 jam yang lalu

Health
1 hari yang lalu

Health
2 hari yang lalu

Health
3 hari yang lalu

Health
4 hari yang lalu

Health
5 hari yang lalu
