dr. Christian
admin
Health
1 minggu yang lalu

Puasa sering dipahami hanya sebagai praktik ibadah, tetapi pada penderita gastroesophageal reflux disease (GERD), puasa juga menjadi “eksperimen alami” yang bisa memengaruhi naik-turunnya kadar asam lambung. Banyak pasien melaporkan keluhan nyeri ulu hati dan rasa panas di dada terasa berbeda saat berpuasa, dan hal ini ternyata didukung oleh temuan ilmiah dalam beberapa tahun terakhir. Yuk disimak!

1. Apa yang terjadi pada lambung saat puasa
Saat tidak ada asupan makanan selama beberapa jam, lambung mengalami penurunan distensi dan rangsangan produksi asam lambung. Tekanan pada katup esofagus bawah juga lebih kecil, sehingga peluang terjadinya refluks asam lambung menurun. Inilah salah satu alasan mengapa jeda makan yang lebih panjang, seperti pada puasa atau time-restricted eating, dapat membantu mengurangi paparan asam ke kerongkongan pada sebagian penderita GERD.
2. Bukti ilmiah tentang puasa dan GERD
Studi klinis terbaru menunjukkan bahwa pola intermittent fasting 16 jam dapat menurunkan paparan asam lambung ke esofagus dan memperbaiki skor gejala heartburn serta regurgitasi pada pasien dengan GERD. Selain itu, penelitian selama bulan puasa Ramadan menemukan bahwa banyak pasien mengalami perbaikan keluhan dibandingkan dengan waktu sebelum puasa, meskipun hasilnya sangat dipengaruhi oleh pola makan saat sahur dan berbuka juga.

3. Mengapa sebagian orang justru makin kambuh saat puasa
Tidak semua penderita GERD membaik saat berpuasa. Jika saat berbuka seseorang makan secara berlebihan, lalu juga memilih makanan tinggi lemak, gorengan, pedas, cokelat, atau minuman berkafein, maka tekanan lambung akan meningkat tajam dan katup esofagus lebih mudah “bocor”. Akibatnya, refluks asam lambung bisa muncul lebih berat meskipun sepanjang hari lambung sempat beristirahat karena berpuasa tadi.
4. Cara berpuasa yang lebih aman bagi penderita GERD
Pendekatan yang direkomendasikan adalah porsi makanan saat berbuka dan sahur dengan porsi yang sedang, atau membagi waktu makan menjadi dua tahap kecil. Selain itu, perlu juga menghindari makanan pemicu refluks asam lambung, serta tidak langsung berbaring setelah makan. Obat penekan asam lambung seperti proton pump inhibitor tetap boleh dan justru dianjurkan dilanjutkan sesuai jadwal dokter selama bulan puasa.

Puasa, bila dilakukan dengan pola makan yang tepat, dapat menjadi bagian dari strategi non-farmakologis untuk membantu mengontrol kondisi GERD, meskipun bukan pengganti terapi medis. Jika Anda memiliki GERD dan ragu bagaimana mengatur pola makan atau obat saat berpuasa, Anda bisa berkonsultasi langsung dengan dokter melalui aplikasi Konsuldong untuk mendapatkan panduan yang sesuai kondisi Anda. Yuk unduh Konsuldong sekarang!
Referensi:
1. Jiang, Y., Sonu, I., Garcia, P., Fernandez-Becker, N. Q., Zikos, T. A., Kamal, A. N., & Clarke, J. O. (2023). The impact of intermittent fasting on patients with suspected gastroesophageal reflux disease. Journal of Clinical Gastroenterology, 57(10), 1001–1006.
2. Bohamad, A. H., Aladhab, W. A., Alhashem, S. S., Alajmi, M. S., Alhumam, T., & Elshebiny, A. M. (2023). Impact of Ramadan fasting on the severity of symptoms among patients with gastroesophageal reflux disease (GERD). Cureus, 15(3), e36831.
3. Staller, K., & Chan, W. W. (2022). Lifestyle interventions for gastroesophageal reflux disease. Gastroenterology Clinics of North America, 51(2), 347–360.*
Health
2 jam yang lalu

Health
1 hari yang lalu

Health
2 hari yang lalu

Health
3 hari yang lalu

Health
4 hari yang lalu

Health
5 hari yang lalu
