dr. Christian

admin

Apa itu “Body Age”? Mengukur Seberapa “Tua” Tubuh Kita Sebenarnya

Health

16 jam yang lalu

Apa itu “Body Age”? Mengukur Seberapa “Tua” Tubuh Kita Sebenarnya



Bayangkan ada dua orang sama-sama berusia 40 tahun berdasarkan tanggal lahir. Namun satu-nya tampak energik, segar dan sehat, sementara yang lain sering merasa lelah, gampang sakit, dan terasa “berat”. Itulah gambaran klasik dari perbedaan antara usia kronologis (yang tercatat di KTP) dan usia tubuh yang sering disebut juga Biological age atau “body age”.


Secara sederhana, body age adalah perkiraan seberapa “tua” tubuh kita secara fisiologis atau seluler berdasarkan kondisi jaringan, organ, dan sistem tubuh, bukan sekadar berapa tahun kita sudah hidup. Ingin tahu lebih jelas? Yuk kita bahas lebih lanjut!



Mengapa Body Age Bisa Berbeda dari Usia Kronologis


-Body age dipengaruhi oleh banyak faktor seperti genetik, gaya hidup (pola makan, aktivitas fisik, tidur, stres), lingkungan, dan kerusakan sel/kromosom seiring berjalannya waktu.


-Berbagai “biomarker” digunakan untuk memperkirakan body age misalnya panjang telomer DNA, pola metilasi DNA (epigenetic clock), tanda peradangan, dan indikator fungsi organ.


-Karena itu, dua orang dengan umur kronologis yang sama bisa memiliki body age berbeda dimana satu bisa “lebih muda” atau “lebih tua” dari umurnya berdasarkan kondisi tubuh.



Apa Dampak Body Age yang Lebih “Tua” bagi Kesehatan

Memiliki body age yang lebih tinggi dari usia kronologis atau “percepatan penuaan biologis” dapat membawa sejumlah risiko kesehatan serius:


-Menurut studi besar, individu dengan selisih usia tinggi (biological age jauh lebih tinggi dari chronological age) memiliki risiko lebih tinggi terkena penyakit kardiovaskular seperti hipertensi, penyakit jantung iskemik, gagal jantung, aritmia, stroke, aterosklerosis.


-Di luar penyakit jantung, body age tinggi juga dikaitkan dengan peningkatan risiko diabetes, penyakit paru kronis, gangguan ginjal, serta gangguan sistem peredaran darah dan metabolisme.


-Secara lebih luas, biological age yang tinggi dapat memprediksi kematian dini yakni, usia biologis bisa menjadi indikator yang lebih akurat untuk “harapan hidup sehat” dibandingkan usia kronologis.


-Di sisi lain, jika body age “lebih muda” dari usia kronologis (artinya fungsi dan kondisi tubuh relatif baik), itu pertanda bahwa tubuh lebih “prima”, potensi hidup sehat dan aktif lebih besar.

Dengan kata lain body age memberi gambaran realistis tentang kesehatan dan “umur biologis” tubuh bukan sekadar angka di KTP.



Apa yang Bisa Membuat Body Age “Lebih Muda” dan Sebaliknya?

Penelitian menunjukkan bahwa ada sejumlah faktor yang bisa mempengaruhi seberapa cepat atau lambat tubuh “menua”:


-Faktor negatif: gaya hidup yang tidak sehat misalnya kurang aktivitas fisik, pola makan buruk, kurang tidur, stres kronis, obesitas atau persentase lemak tubuh tinggi dapat mempercepat usia biologis.


-Faktor positif: menjaga kebugaran, memiliki massa otot yang sehat, proporsi lemak tubuh ideal, diet seimbang, tidur cukup, serta kesehatan organ dan sistem tubuh cenderung memperlambat proses penuaan biologis.


Dengan kata lain, Body age bukan sesuatu yang sepenuhnya ditentukan sejak lahir melainkan kita punya kendali besar melalui gaya hidup sehari-hari.



Kenapa Penting Bagi Kita Memahami Body Age

-Karena body age memberi gambaran lebih realistis tentang kondisi kesehatan dan risiko penyakit di masa depan jadi bukan sekadar usia kronologis yang pasif. Ini membantu kita untuk menjadi lebih proaktif terhadap kesehatan.


-Memahami body age mendorong kita untuk mengevaluasi gaya hidup dan membuat perubahan sehat sejak dini sehingga bisa meningkatkan kualitas hidup, mengurangi risiko penyakit kronis, dan memperpanjang masa hidup sehat (healthspan), bukan sekedar umur panjang.


-Di tengah berbagai pilihan gaya hidup modern yang bisa mempercepat penuaan seperti pola makan buruk, kurang gerak, stres, hingga polusi, body age menjadi semacam “alarm kesehatan” yang menandakan kapan tubuh butuh perhatian ekstra.



Konsultasi Sekarang!

Jadi, body age alias usia biologis adalah cerminan nyata dari seberapa baik tubuh kita bekerja di tingkat sel, jaringan, dan organ. Bukan sekadar angka di KTP. Dengan memperhatikan dan menjaga body age kita lewat gaya hidup sehat, pola makan baik, olahraga, tidur cukup, dan manajemen stres yang baik, kita tidak hanya bisa tua dengan anggun, tetapi hidup lebih sehat dan berkualitas lebih lama.


Kalau Anda ingin pantau body age Anda sendiri, mendapatkan rekomendasi gaya hidup, serta pemantauan kesehatan secara lebih komprehensif, anda bisa coba gunakan aplikasi Konsuldong. Dengan Konsuldong, Anda bisa mendapatkan insight kesehatan personal, prediksi kondisi tubuh, dan panduan gaya hidup sehat yang sesuai dengan usia biologis Anda. Yuk download Konsuldong sekarang!



Referensi

1. Liu, W. S., et al. (2023). Association of biological age with health outcomes and its implications for public health. PMC (National Center for Biotechnology Information).


2. Kang, Y.-G., et al. (2018). Biological age as a health index for mortality and major age-related disease incidence. Clinical and Interventional Aging.


3. Mathur, A., et al. (2024). New insights into methods to measure biological age. Frontiers in Aging


Baca juga

Cegah Luka, Hindari Amputasi : Waspadai Kaki Diabetes Sejak Dini

Cegah Luka, Hindari Amputasi : Waspadai Kaki Diabetes Sejak Dini Kaki yang sehat akan menciptakan kualitas hidup yang lebih baik. Langkah pencegahan yang dilakukan untuk menghindari terjadinya kaki diabetes terutama pada penderita diabetes, dapat dimulai dari perawatan harian yang sederhana sampai dengan tindakan medis di saat waktu yang tepat agar dapat terhindar dari luka, infeksi, hingga amputasi.Apa itu kaki diabetes (diabetic foot)? Kaki diabetes adalah berbagai masalah pada kaki yang terjadi akibat penyakit diabetes. Mulai dari kulit yang kering, luka yang sulit sembuh, infeksi, hingga gangguan serius pada aliran darah atau bentuk tulang kaki yang jadi berubah. Luka kecil sekalipun bisa menjadi serius jika tidak segera diperiksa dan ditangani dengan baik.Mengapa penderita diabetes berisiko mengalami masalah pada kaki? Hal ini dikarenakan kadar gula darah yang tinggi dalam waktu yang lama dapat merusak saraf dan pembuluh darah. Akibatnya dapat terjadi :-Kerusakan saraf (neuropati diabetik), hal ini dapat membuat kaki menjadi kurang peka terhadap rasa sakit atau tekanan, sehingga luka kecil yang terjadi sering kali tidak disadari.-Gangguan aliran darah (penyakit arteri perifer), dimana hal ini menyebabkan suplai aliran darah menuju ke kaki berkurang, membuat luka menjadi lebih lama sembuh.-Bentuk kaki yang berubah (Deformitas pada kaki). Tanpa perawatan yang tepat, luka kecil bisa berkembang menjadi ulser (borok) dan berujung pada amputasi. Namun, dengan perawatan kaki yang baik dan pemeriksaan yang rutin, sebagian besar kasus ini dapat dicegah.Tanda dan gejala yang perlu diwaspadai (lakukan pemeriksaan pada kaki setiap hari):-Apakah terdapat luka, borok, atau kulit yang terkelupas dan tidak sembuh dalam beberapa hari.-Kemerahan, bengkak, kaki terasa panas, atau keluar nanah, karena hal ini bisa saja menjadi suatu tanda adanya infeksi.-Rasa kebas, kesemutan, atau hilangnya sensasi di kaki.-Perubahan warna kulit atau kulit yang terasa dingin pada ujung kaki, hal ini bisa menandakan adanya gangguan aliran darah (sirkulasi yang buruk).-Nyeri yang terjadi secara terus-menerus, bau tidak sedap, atau demam, jika hal ini terjadi, segera periksakan diri ke layanan kesehatan terdekat.Pencegahan dan langkah praktis yang dapat dilakukan di rumah setiap hari 1. Lakukan pemeriksaan kaki setiap hari : lihat telapak kaki, sela jari kaki, tumit, dan kuku. Gunakan cermin bila sulit melihat ke area bagian bawah kaki.2. Cuci kaki setiap hari dengan air hangat (bukan panas), lalu keringkan dengan lembut, terutama di sela-sela jari.3. Jangan berjalan tanpa alas kaki, bahkan saat berada di dalam rumah, untuk mencegah luka yang tidak terasa.4. Potong kuku secara lurus dan rapi, haluskan tepinya dengan kikir. Jika ada kutil atau kapalan, jangan mencoba mengobatinya sendiri.5. Gunakan sepatu yang nyaman dan pas di kaki, serta kaos kaki yang bersih dan menyerap keringat. Periksa bagian dalam sepatu sebelum dipakai agar tidak ada benda tajam atau lipatan yang bisa melukai kaki.6. Jaga kadar gula darah, tekanan darah, dan kolesterol agar tetap terkendali, hal ini sangat membantu mencegah luka dan mempercepat proses penyembuhan bila ada luka kecil yang terjadi.Kapan harus segera ke dokter atau fasilitas kesehatan Anda dapat segera mencari pertolongan medis bila terdapat hal – hal berikut :-Luka yang dalam, perdarahan yang banyak dan sulit berhenti, atau tidak sembuh dalam beberapa hari.-Terdapat tanda – tanda infeksi : nanah, kemerahan yang meluas, nyeri, bengkak dan demam.-Perubahan warna pada kulit kaki atau perasaan dingin yang ekstrem hingga hilangnya sensasi raba pada kaki secara mendadak, jika hal ini terjadi, jangan tunggu lagi, segera cari pertolongan medis, karena penanganan yang cepat akan menyelamatkan jaringan kaki dan nyawa kita.  Merawat kaki Adalah hal yang sederhana, tetapi dapat memberikan dampak yang sangat besar. Dengan rutin melakukan perawatan sederhana di rumah dan memeriksakan diri ke dokter secara tepat waktu, kebanyakan masalah kaki akibat diabetes bisa dicegah. Biasakan untuk memeriksa kaki setiap hari dan menjaga kadar gula agar tetap stabil. Kaki yang sehat berarti bisa terus melangkah dengan nyaman dan menikmati hidup lebih lama dengan kualitas yang baik. Semoga artikel ini bermanfaat bagi Anda, dan jika ada yang ingin didiskusikan lebih lanjut, kami siap membantu. Silahkan download aplikasi konsuldong, dan hubungi dokter-dokter yang akan dengan senang hati membantu Anda.  Referensi :1.    https://www.cdc.gov/diabetes/diabetes-complications/diabetes-and-your-feet.html?2.    https://iwgdfguidelines.org/introduction/ 

Health

2 hari yang lalu

Dopamin Trap: Kenapa Kita Ketagihan Scroll Media Sosial?

Dopamin Trap: Kenapa Kita Ketagihan Scroll Media Sosial?  Pernahkah kamu berniat membuka Instagram hanya “5 menit saja”, tapi akhirnya malah scroll selama berjam-jam? Fenomena ini bukan sekadar masalah kurang disiplin, melainkan hasil dari jebakan biologis di otak kita yang disebut “Dopamin Trap”. Aplikasi media sosial dirancang dengan sangat cermat untuk memicu sistem dopamin kita, membuat otak terus mencari reward baru dari setiap notifikasi, like, atau video pendek yang muncul di layar.  Apa Itu Dopamin? Dopamin adalah neurotransmiter atau zat kimia otak yang berperan penting dalam rasa senang, motivasi, dan pembelajaran. Ketika kita menerima hal yang menyenangkan, seperti pujian, makanan enak, atau like di media sosial, otak melepaskan dopamin, membuat kita merasa bahagia dan terdorong untuk mengulanginya. Namun, sistem ini bisa disalahgunakan. Aplikasi media sosial memanfaatkan mekanisme “hadiah tak terduga” (variable reward system), mirip dengan mesin judi, di mana setiap scroll bisa memberikan kejutan konten baru yang menyenangkan, dan otak kita menjadi terjebak untuk ingin lagi dan lagi. Bagaimana Media Sosial Memicu Ketagihan?1. Notifikasi Merah dan Bunyi PesanWarna merah dan suara notifikasi menstimulasi amigdala (pusat emosi otak), memicu rasa ingin tahu dan kecemasan kalau kita melewatkan sesuatu (Fear of Missing out / FOMO).2. Algoritma yang DipersonalisasiSetiap scroll membentuk data preferensi kita. Semakin lama kita menatap layar, semakin akurat algoritma menampilkan konten yang kita sukai. memperkuat loop dopamin.3. Reward Tak TerdugaSama seperti judi, kita tidak tahu kapan akan mendapatkan konten lucu, menarik, atau komentar yang bikin senang hati kita. Ketidakpastian inilah yang membuat dopamin melonjak lebih tinggi.4. Validasi Sosial InstanSetiap like, komentar, atau view menjadi sinyal sosial yang menegaskan eksistensi diri, memberikan rasa “diterima” meski sementara.   Dampak Ketagihan Scroll Media Sosial-Menurunkan konsentrasi dan produktivitasOtak kehilangan kemampuan fokus karena terbiasa dengan rangsangan cepat dan singkat.-Meningkatkan kecemasan dan depresiStudi menunjukkan, penggunaan media sosial berlebihan meningkatkan risiko perbandingan sosial dan timbulnya rasa rendah diri.-Gangguan tidur dan jam biologisPaparan cahaya biru sebelum tidur menghambat produksi melatonin, hormon pengatur tidur.-Hubungan sosial di dunia nyata menurunIronisnya, semakin sering terhubung secara digital, semakin banyak orang merasa kesepian secara emosional.  Cara Keluar dari “Dopamin Trap”1. Beri jeda dopamin (dopamine detox)Kurangi penggunaan media sosial selama beberapa jam atau beberapa hari untuk menyeimbangkan sistem penghargaan otak.2. Hapus notifikasi tidak pentingDengan begitu, kamu mengurangi pemicu otomatis yang membuatmu membuka aplikasi tanpa sadar.3. Batasi waktu dengan aplikasi pengingat layarGunakan screen time control agar kamu sadar berapa lama waktu yang sudah dihabiskan untuk scroll media sosial.4. Ganti kebiasaan scroll dengan aktivitas alamiLakukan aktivitas seperti olahraga, membaca buku, atau berinteraksi langsung dengan orang lain, yang juga melepaskan dopamin, tapi secara sehat  Ketagihan media sosial bukan sekadar masalah kebiasaan, melainkan respons biologis otak terhadap dopamin yang terus dipicu oleh sistem algoritma. Memahami bagaimana dopamin bekerja adalah langkah pertama untuk keluar dari jerat scroll trap dan mengembalikan kendali diri kita atas waktu, fokus, serta kesehatan mental kita.  Ingin tahu apakah kamu sudah mengalami digital burnout atau gangguan kecemasan akibat media sosial?💬 Konsuldong hadir sebagai sahabat sehatmu, aplikasi konsultasi kesehatan langsung dengan dokter tanpa harus keluar rumah!🌿 Konsuldong - Sehatkan Pikiran, Seimbangkan Hidupmu. 📲 Unduh sekarang dan mulai kendalikan kembali dopaminmu hari ini! 📚 Referensi1.    Harvard Medical School. (2023). The Dopamine Connection: How Technology Affects Brain Reward Pathways.2.    American Psychological Association (APA). (2022). The Role of Social Media in Mental Health and Wellbeing.3.    Nature Neuroscience. (2021). Variable Reward Systems and Behavioral Addiction in Digital Media.4.    Stanford University. (2022). Neurobiology of Digital Addiction: The Dopamine Mechanism.5.    World Health Organization (WHO). (2023). Digital Health and Mental Wellness Report. 

Health

3 hari yang lalu

Waspadai Flu Singapura: Bukan Flu Biasa, Tapi Infeksi yang Mudah Menular!

Waspadai Flu Singapura: Bukan Flu Biasa, Tapi Infeksi yang Mudah Menular! Pernah mendengar istilah flu Singapura? Sekilas namanya terdengar seperti flu biasa, namun ternyata penyakit ini bisa menyebabkan luka di mulut dan ruam di tangan serta kaki, terutama pada anak-anak! Flu Singapura, atau dalam dunia medis disebut Hand, Foot, and Mouth Disease (HFMD), merupakan penyakit menular yang kerap muncul di musim pancaroba dan bisa menyebar dengan cepat di lingkungan sekolah maupun rumah.Apa Itu Flu Singapura? Flu Singapura adalah penyakit akibat infeksi virus dari kelompok Enterovirus, paling sering disebabkan oleh Coxsackievirus A16 dan Enterovirus 71. Penyakit ini menyerang terutama anak-anak di bawah usia 10 tahun, namun orang dewasa pun tidak berarti kebal juga. Virus ini mudah menular melalui kontak langsung dengan cairan hidung, air liur, feses, atau cairan dari lepuhan penderita.Gejala Umum Flu Singapura-Demam ringan hingga tinggi-Luka sariawan di dalam mulut, lidah, atau gusi-Ruam merah atau lepuhan di telapak tangan, telapak kaki, dan kadang di bokong-Nafsu makan menurun-Rewel dan lemas pada anakGejala biasanya muncul 3–6 hari setelah terpapar virus, dan akan sembuh dalam waktu 7–10 hari dengan perawatan suportif yang memadai. Cara Penularan Flu Singapura Virus penyebab flu Singapura sangat mudah menyebar, terutama di tempat dengan kontak erat seperti sekolah, penitipan anak, atau rumah tangga. Penularan dapat terjadi melalui:-Sentuhan langsung dengan cairan tubuh penderita-Menyentuh benda yang terkontaminasi virus-Percikan air liur saat batuk atau bersinKarena itu, menjaga kebersihan tangan dan etika batuk sangat penting untuk mencegah penyebaran.Cara Mencegah Flu Singapura-Biasakan mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir, terutama setelah dari toilet atau mengganti popok.-Hindari berbagi peralatan makan, handuk, atau mainan dengan penderita.-Bersihkan permukaan benda yang sering disentuh anak dengan disinfektan.-Jauhkan anak yang sedang sakit dari lingkungan sekolah hingga benar-benar pulih.Kapan Harus ke Dokter?Segera bawa anak ke dokter jika muncul tanda-tanda berikut:-Demam tinggi lebih dari 3 hari-Anak tampak sangat lemas atau tidak mau minum-Luka di mulut makin banyak atau terasa sangat nyeri-Tanda dehidrasi (jarang buang air kecil, bibir kering) Penanganan medis diperlukan untuk memastikan kondisi tidak berkembang menjadi komplikasi yang lebih serius.Konsultasi Sekarang! Flu Singapura memang bisa sembuh sendiri, tapi gejalanya sering membuat orang tua khawatir. Jangan tunggu parah! konsultasikan kondisi anak Anda langsung dengan dokter lewat aplikasi Konsuldong! Dapatkan saran medis terpercaya dari ahlinya tanpa harus keluar rumah, kapan pun dan di mana pun.Referensi:1.    Centers for Disease Control and Prevention. (2023). Hand, Foot, and Mouth Disease (HFMD).2.    World Health Organization. (2022). Hand, Foot and Mouth Disease – Key Facts. 3.    Ooi, M. H., Wong, S. C., Lewthwaite, P., Cardosa, M. J., & Solomon, T. (2010). Clinical features, diagnosis, and management of enterovirus 71. The Lancet Neurology, 9(11), 1097–1105. 

Health

4 hari yang lalu

“Sitting Is the New Smoking”: Bahaya Duduk Terlalu Lama bagi Tubuh

“Sitting Is the New Smoking”: Bahaya Duduk Terlalu Lama bagi Tubuh Duduk berjam-jam sudah menjadi bagian dari kehidupan modern: kerja di depan komputer, rapat daring, naik kendaraan panjang, sampai waktu bersantai nonton serial. Istilah “sitting is the new smoking” muncul untuk memberi peringatan, bukan agar duduk langsung disamakan dengan merokok secara literal, tetapi untuk menekankan bahwa perilaku duduk berlebihan punya dampak kesehatan serius yang luas. Artikel ini akan menjelaskan apa saja bahaya duduk terlalu lama, bukti ilmiah utama, dan langkah praktis untuk mengurangi risikonya. Kenapa duduk terlalu lama berbahaya? Duduk panjang (sedentary behaviour), yaitu aktivitas berenergi rendah seperti duduk atau berbaring (kecuali tidur), yang dikaitkan dengan peningkatan risiko berbagai masalah kesehatan seperti:-Penyakit kardiovaskular (penyakit jantung dan stroke). Penelitian dan tinjauan besar menemukan adanya hubungan antara waktu duduk yang panjang dengan risiko penyakit jantung.-Diabetes tipe 2 dan gangguan metabolik. Duduk lama menurunkan sensitivitas insulin dan memperlambat metabolisme glukosa, sehingga meningkatkan risiko gangguan gula darah. -Peningkatan risiko kematian dini (all-cause mortality). Meta-analisis besar menunjukkan bahwa waktu duduk yang lama berhubungan dengan peningkatan kematian, meskipun besarnya risiko dipengaruhi oleh tingkat aktivitas fisik. -Beberapa jenis kanker. Studi observasional lainnya melaporkan adanya asosiasi antara duduk berlebihan (menonton TV, dll) dan peningkatan risiko beberapa kanker (kolon, payudara, dll.), meskipun mekanisme pasti belum sepenuhnya jelas. Masalah muskuloskeletal & kesehatan mental Duduk lama berkontribusi pada nyeri punggung bawah, lemah otot postural, dan juga terkait dengan gejala depresi atau mood yang menurun. Penting untuk diketahui bahwa hubungan ini sebagian besar berasal dari studi observasional, artinya duduk lama dikaitkan dengan risiko-risiko ini; peneliti berusaha mengendalikan faktor lain, tetapi bukti telah menunjukkan bahwa duduk lama adalah faktor yang relevan dan dapat dimodifikasi. Apakah olahraga bisa “menghapus” efek duduk? Kabar baik: aktivitas fisik bisa mengurangi atau bahkan menghilangkan sebagian besar risiko yang terkait dengan duduk berlebih, tetapi jumlah aktivitasnya merupakan faktor penting. Meta-analisis besar menunjukkan bahwa orang dengan tingkat aktivitas fisik moderat-vigorous tinggi (sekitar 60-75 menit jalan cepat atau kegiatan setara sehari) tampak tidak mengalami peningkatan kematian meski duduk lama; sedangkan orang yang tidak aktif tetap berisiko. Artinya: duduk kurang + bergerak lebih = risiko berkurang. WHO merekomendasikan kombinasi aktivitas aerobik dan penguatan otot, serta mengurangi waktu duduk secara keseluruhan, namun mereka menyatakan bukti yang ada masih belum cukup untuk menetapkan batasan “ambang aman” waktu duduk tertentu, sehingga prinsipnya adalah kurangi waktu duduk sebanyak mungkin. Praktik sehari-hari: 10 cara mengurangi dampak duduk terlalu lamaBerikut tips praktis yang bisa langsung dicoba di rumah atau di tempat kerja.1. Istirahat gerak setiap 30-60 menit. Bangun, berjalan sebentar, atau lakukan peregangan 2-5 menit.2. Gunakan teknik Pomodoro aktif. Setelah 25-50 menit bekerja, lakukan 5 menit jalan atau gerakan ringan.3. Rapat berjalan (walk-and-talk). Bila memungkinkan, lakukan panggilan telepon sambil berjalan.4. Standing desk bergantian. Kombinasikan 30-60 menit berdiri dengan duduk, jangan berdiri sepanjang hari tanpa intervensi lain. (Catatan: berdiri terus-menerus juga punya risiko; keseimbangan gerak lebih penting.) 5. Tambahkan aktivitas intensitas ringan setiap hari seperti naik tangga, parkir agak jauh dari pintu masuk, melakukan pekerjaan rumah dengan sengaja aktif.6. Sisihkan waktu olahraga terjadwal. Targetkan minimal 150-300 menit aktivitas aerobik moderat/pekan atau setara VIGOROUS sesuai kemampuan. 7. Micro-movement saat duduk. Kontrak glute, ganti posisi, atau lakukan peregangan leher/shoulder roll.8. Kurangi waktu layar santai (TV/streaming) berjam-jam. Batasi binge-watching dan ambil jeda aktif setiap episode/1 jam.9. Buat alarm atau app pengingat bergerak. Banyak aplikasi pengingat berdiri atau jam pintar punya fitur ini.10. Atur lingkungan kerja yang mendorong untuk bergerak. Letakkan printer jauh dari meja duduk, gunakan toilet di lantai lain, atau atur meja untuk mendorong pengguna bangun sesekali.   Bagaimana jika saya pekerja kantoran / WFH? Buat ritual gerak: mulai hari dengan 10 menit peregangan, jadwalkan jeda gerak 3-6 kali sehari, dan kombinasikan sesi olahraga pagi/malam. Jika pekerjaan menuntut duduk panjang dalam waktu yang lama (jam rapat berturut-turut), usulkan rapat singkat saja atau rapat berjalan untuk beberapa agenda dengan berjeda. Duduk terlalu lama adalah faktor risiko yang nyata untuk penyakit jantung, diabetes, beberapa kanker, nyeri muskuloskeletal, dan peningkatan kematian dini. Berita baiknya: risiko-risiko ini dapat dikurangi dengan lebih banyak aktivitas fisik - terutama kombinasi olahraga rutin dan kebiasaan memecah periode duduk. Prinsip praktis: kurangi durasi duduk, tambah frekuensi gerak kecil setiap hari, dan penuhi rekomendasi aktivitas fisik mingguan. Kebiasaan kecil sehat seperti jalan 5 menit tiap jam (bila dilakukan konsisten), berdampak besar untuk kesehatan jangka panjang.Butuh konsultasi kesehatan cepat? Kalau kamu ingin tahu seberapa besar risiko kesehatanmu terkait gaya hidup (pekerjaan banyak duduk, hasil pemeriksaan, atau bagaimana memulai program aktivitas yang aman), coba Konsuldong - aplikasi konsultasi kesehatan yang menghubungkan kamu dengan dokter untuk saran personal lewat chat. Cocok untuk:-Mengevaluasi risiko kardiometabolik berdasarkan gaya hidup,-Rekomendasi olahraga yang aman untuk kondisi tertentu.Yuk Unduh Konsuldong sekarang!Referensi:World Health Organization -WHO Guidelines on Physical Activity and Sedentary Behaviour (2020). World Health Organization+1Ekelund U., et al. - Does physical activity attenuate, or even eliminate, the detrimental association of sitting time with mortality? (Harmonised meta-analysis, Lancet, 2016). PubMed+1Lavie C.J., et al. - Sedentary Behavior, Exercise, and Cardiovascular Health (Circulation Research review). American Heart Association JournalsBaddeley B. -“Sitting is the new smoking”: where do we stand? (Review, 2016). PMCBetter Health Channel (Victoria, Australia) -The dangers of sitting. (Ringkasan publik dan educative). Better Health Channel

Health

5 hari yang lalu

5 Kebiasaan Sehat yang Bisa Dilakukan Sebelum Tidur

5 Kebiasaan Sehat yang Bisa Dilakukan Sebelum Tidur Tidur yang berkualitas bukan hanya soal durasi, tetapi juga terkait kebiasaan sebelum tidur (pre-sleep routine) yang menentukan seberapa cepat kita dapat terlelap dan bagaimana tubuh memulihkan diri selama semalaman. Untuk itu, berikut adalah lima kebiasaan sederhana, praktis, dan mudah diterapkan yang dapat dimulai pada malam ini juga untuk membantu tidur anda agar lebih nyenyak dan bangun lebih segar. 1. Tetapkan waktu tidur dan bangun yang konsisten Tubuh punya jam biologis (sirkadian). Pergi tidur dan bangun pada jam yang sama setiap harinya dapat membantu tubuh mengenali ritme tidur-bangun anda, sehingga kualitas tidur meningkat dan Anda lebih mudah terjaga di pagi hari. Cobalah tetapkan jadwal yang realistis dan lalu pertahankan, termasuk di akhir pekan.Cara praktis : pilih waktu tidur yang memungkinkan sekitar 7-9 jam tidur, lalu pasang alarm pengingat “mulai bersiap tidur” 30-60 menit sebelum waktunya tidur.2. Matikan layar 30-60 menit sebelum tidur Cahaya biru dari ponsel, tablet, atau TV menekan produksi melatonin (hormon yang membantu untuk tidur) dan membuat otak tetap “terjaga”. Membatasi penggunaan layar menjelang tidur membantu proses relaksasi dan memudahkan Anda terlelap.Cara praktis : aktifkan fitur “bedtime” atau “do not disturb”, letakkan ponsel jauh dari tempat tidur, dan ganti scroll dengan membaca buku ringan atau mendengarkan musik relaksasi.3. Buat rutinitas relaksasi singkat (10-20 menit) Kegiatan seperti pernapasan terarah, peregangan ringan, mandi hangat, atau meditasi singkat dapat menurunkan ketegangan fisik dan kecemasan, sehingga membantu mempersiapkan tubuh untuk tidur. Mandi hangat 30-60 menit sebelum tidur juga membantu penurunan suhu tubuh yang alami, di mana menciptakan sinyal bagi tubuh untuk tidur. Cara praktis : pilih 1-2 aktivitas relaksasi, rutinkan selama 10-20 menit setiap malamnya sehingga menjadi sinyal bagi tubuh bahwa waktu tidur sudah dekat.4. Hindari makanan berat, kafein, dan alkohol menjelang tidur Makan terlalu kenyang, minum kopi/teh berkafein di sore / malam hari, atau konsumsi alkohol yang dekat dengan waktu tidur bisa mengganggu proses tidur, memperlambat proses tidur, memicu refluks, atau fragmentasi tidur. Untuk tidur lebih nyenyak, batasi kafein di sore hari dan hindari makanan berat sekitar 2-3 jam sebelum tidur. Cara praktis : jika lapar sebelum tidur, pilih camilan ringan (misalnya : yoghurt rendah gula atau buah) dan hindari minuman berkafein setelah pukul 15.00-17.00 (sesuaikan dengan jadwal aktifitas Anda).  5. Ciptakan lingkungan tidur yang nyaman Ruangan yang gelap, sunyi, dan suhu yang nyaman (agak sejuk) mendukung tidur agar lebih nyenyak. Gunakan tirai gelap, penutup telinga, atau pendingin / kipas bila perlu. Matikan lampu yang terang dan minimalkan gangguan suara atau cahaya dari jam digital / telepon. Cara praktis : atur kasur dan bantal senyaman mungkin, matikan lampu yang tidak diperlukan, dan gunakan lampu redup saat bersiap tidur agar transisi ke suasana gelap semakin mulus.  Mulai dari satu kebiasaan kecil saja, misalnya mematikan layar 30 menit sebelum tidur dan tambahkan kebiasaan lain setelahnya. Konsistensi ini dapat membuat perubahan kecil ini menjadi efek besar bagi kualitas tidur dan kesehatan jangka panjang. Semoga artikel ini bermanfaat bagi Anda, dan jika ada yang ingin didiskusikan lebih lanjut, kami siap membantu. Silahkan download aplikasi konsuldong, dan hubungi dokter-dokter yang akan dengan senang hati membantu Anda. Referensi :1.    https://www.cdc.gov/sleep/about/index.html?2.    https://www.nhs.uk/every-mind-matters/mental-wellbeing-tips/how-to-fall-asleep-faster-and-sleep-better/? 

Health

6 hari yang lalu

Cari Artikel Kesehatan Lainnya