dr. Christian
admin
Health
2 jam yang lalu

Banyak orang merasa sulit berhenti makan makanan manis mulai dari minuman kemasan, dessert, hingga camilan ringan. Kondisi ini sering disebut sebagai “kecanduan gula”. Namun, apakah secara medis gula benar-benar bisa menyebabkan kecanduan seperti zat adiktif lainnya? Yuk kita telusuri!
Saat kita mengonsumsi gula, tubuh akan merangsang pelepasan dopamin di otak, yaitu neurotransmitter yang berperan dalam rasa senang dan reward. Mekanisme ini mirip dengan yang terjadi pada zat adiktif seperti nikotin atau alkohol, meskipun efeknya tidak sekuat itu.

Penelitian dalam 5 tahun terakhir menunjukkan bahwa konsumsi gula berlebih dapat mengaktifkan reward pathway (mesolimbic system), khususnya di area nucleus accumbens. Aktivasi berulang ini dapat membuat seseorang terdorong untuk terus mengonsumsi gula, terutama ketika berada dalam kondisi stres atau kelelahan.
Secara definisi medis, “kecanduan” (addiction) biasanya ditetapkan jika memenuhi kriteria seperti:
Hingga saat ini, gula belum secara resmi diklasifikasikan sebagai zat adiktif dalam sistem diagnostik seperti DSM-5. Namun, beberapa studi menyebutkan adanya “food addiction–like behavior”, terutama terhadap makanan tinggi kadar gula dan lemak.
Artinya, yang terjadi bukan kecanduan murni seperti narkotika, tetapi lebih ke pola perilaku kompulsif terhadap makanan tertentu.
Beberapa kondisi dapat membuat seseorang lebih rentan sulit lepas dari gula:

Produk makanan modern memang dirancang sangat “palatable”, sehingga memicu overconsumption.
Walaupun tidak diklasifikasikan sebagai zat adiktif, konsumsi gula berlebihan tetap berdampak signifikan terhadap kesehatan:
WHO merekomendasikan konsumsi gula tambahan <10% dari total energi harian, idealnya <5%.
Pendekatan yang efektif biasanya bukan dengan berhenti total secara mendadak, tetapi secara bertahap seperti:
Adaptasi rasa biasanya terjadi dalam waktu 1–2 minggu, sehingga preferensi terhadap makanan manis bisa menurun.

Gula memang dapat memicu sistem reward di otak dan menyebabkan perilaku konsumsi berulang, tetapi secara medis belum dikategorikan sebagai zat adiktif seperti narkotika. Meski demikian, efeknya terhadap kesehatan tetap signifikan jika dikonsumsi secara berlebihan, sehingga perlu dikontrol dengan pendekatan pola hidup yang konsisten.
Kalau masih bingung bagaimana cara mengatur pola makan, sering merasa “ketagihan” manis, atau ingin konsultasi lebih lanjut soal kesehatan, kamu bisa langsung tanya ke dokter melalui aplikasi Konsuldong. Praktis, cepat, dan bisa dilakukan kapan saja tanpa harus datang ke klinik. Unduh Konsuldong sekarang!
Health
2 jam yang lalu

Health
1 hari yang lalu

Health
2 hari yang lalu

Health
3 hari yang lalu

Health
4 hari yang lalu

Health
5 hari yang lalu
