dr. Christian
admin
Health
4 minggu yang lalu

Pernahkah kamu bertanya-tanya kenapa di kemasan obat sering tertulis “diminum sebelum makan”, “sesudah makan”, atau “bersamaan makan”? Ternyata, waktu minum obat bukan sekadar aturan tambahan, melainkan hal penting yang memengaruhi seberapa baik obat bekerja di dalam tubuh dan seberapa aman obat tersebut bagi sistem pencernaan. Yuk, simak penjelasan ilmiahnya berikut ini!

1. Mengapa Waktu Minum Obat Itu Penting?
Setiap obat memiliki sifat kimia dan cara kerja yang berbeda. Waktu minum obat berpengaruh terhadap penyerapan, distribusi, dan metabolisme obat di dalam tubuh.
Ketika kita makan, terjadi perubahan fisiologis seperti:
-peningkatan keasaman lambung,
-peningkatan aliran darah ke saluran cerna,
-pelepasan empedu dan enzim pencernaan, serta
-perubahan waktu pengosongan lambung.
Semua hal tersebut dapat meningkatkan, menurunkan, atau menunda penyerapan obat di usus. Oleh Karena itu, dokter atau apoteker selalu memberikan petunjuk waktu minum obat untuk memastikan efek obat bekerja maksimal dan aman.
2. Obat yang Diminum Sebelum Makan
Obat tertentu disarankan diminum sebelum makan (sekitar 30–60 menit sebelumnya) karena lebih efektif diserap dalam kondisi perut kosong.
Contohnya:
-Antibiotik seperti ampisilin dan eritromisin, karena makanan dapat menghambat penyerapannya.
-Obat bisfosfonat (untuk osteoporosis), harus diminum sebelum makan untuk mencegah interaksi dengan kalsium dalam makanan.
Selain itu, beberapa obat akan rusak jika terpapar asam lambung berlebih yang muncul setelah makan. Dengan mengonsumsi obat sebelum makan, kadar obat dalam darah bisa lebih stabil.
3. Obat yang Diminum Sesudah Makan
Beberapa obat sebaliknya dianjurkan diminum sesudah makan, yaitu sekitar 15–30 menit setelah makan. Tujuannya adalah melindungi lambung dari iritasi serta memanfaatkan proses pencernaan untuk meningkatkan penyerapan.
Contohnya:
-Obat antiinflamasi nonsteroid (NSAID) seperti ibuprofen atau aspirin, karena dapat menyebabkan nyeri ulu hati dan tukak lambung jika diminum saat perut kosong.
-Obat yang larut dalam lemak seperti vitamin A, D, E, K atau obat antijamur tertentu (misalnya itrakonazol) memerlukan adanya lemak makanan agar penyerapannya optimal.
-Obat yang dapat menyebabkan mual, seperti metformin, juga lebih baik dikonsumsi sesudah makan untuk mengurangi efek samping tersebut.
4. Obat yang Diminum Bersamaan Makan
Ada juga obat yang disarankan diminum bersamaan dengan makanan. Tujuannya agar kadar obat dalam darah lebih stabil dan lebih mudah diingat oleh pasien (menjadi bagian dari rutinitas makan).
Contohnya:
-Obat kortikosteroid oral dosis rendah seperti prednison untuk mengurangi iritasi lambung.
-Obat dengan “positive food effect” artinya penyerapan meningkat jika dikonsumsi bersamaan makanan, misalnya lopinavir/ritonavir (antivirus).
Namun, perlu diingat tidak semua obat cocok diminum dengan makanan tertentu. Misalnya, jus grapefruit bisa menghambat enzim CYP3A4 di hati yang berperan dalam metabolisme banyak obat, sehingga bisa meningkatkan risiko efek samping.
5. Kesimpulan
Waktu minum obat sangat memengaruhi efektivitas dan keamanan terapi.
-Sebelum makan → untuk obat yang butuh penyerapan cepat atau terganggu oleh makanan.
-Sesudah makan → untuk obat yang bisa mengiritasi lambung atau butuh lemak untuk diserap.
-Bersamaan makan → untuk menjaga kadar obat stabil dalam darah dan memanfaatkan efek makanan terhadap penyerapan.
Selalu baca petunjuk pada kemasan obat dan ikuti anjuran dokter atau apoteker agar terapi lebih efektif dan aman.
Konsultasi Mudah Lewat Aplikasi Konsuldong
Kalau kamu masih bingung kapan waktu terbaik untuk minum obat yang sedang dikonsumsi, jangan menebak sendiri! Gunakan aplikasi Konsuldong, tempat kamu bisa berkonsultasi langsung dengan dokter profesional kapan pun. Dapatkan panduan obat yang personal, aman, dan sesuai kondisi kesehatanmu. Yuk, unduh Konsuldong sekarang karena sehat itu dimulai dari pengetahuan yang benar!
Referensi:
1. Abrahamsson, B. (2019). The mechanisms of pharmacokinetic food–drug interactions. European Journal of Pharmaceutical Sciences, 134, 31–44. https://doi.org/10.1016/j.ejps.2019.04.003
2. Custodio, J. M., Wu, C.-Y., & Benet, L. Z. (2008). Food effects on oral drug absorption: Application of physiologically based pharmacokinetic modeling as a predictive tool. Clinical Pharmacokinetics, 47(10), 655–667.
3. https://doi.org/10.3390/pharmaceutics12070672
4. Genser, D. (2008). Food and drug interaction: Consequences for the nutrition/health status. Annals of Nutrition and Metabolism, 52(Suppl 1), 29–32.
5. https://doi.org/10.5001/omj.2011.21
Health
3 hari yang lalu

News
7 hari yang lalu

Health
1 minggu yang lalu

Health
1 minggu yang lalu

Health
1 minggu yang lalu
