dr. Christian
admin
Health
3 hari yang lalu

Mengatasi Emosi Lewat Makanan: Hubungan Antara Stres dan Obesitas
Stres bukan sekedar “kelelahan emosional” atau “terlalu banyak pikiran”, melainkan dapat berdampak nyata pada pola makan dan berat badan. Banyak orang secara tidak sadar menggunakan makanan sebagai pelampiasan stress yang kemudian meningkatkan risiko kelebihan berat badan atau Obesitas. Artikel ini membahas bagaimana mekanisme, faktor-faktor yang mempengaruhi, dan strategi untuk mengatasinya.

Apa itu emotional eating & mengapa terjadi saat stress?
“Emotional eating” atau makan untuk merespons emosi (bukan karena lapar fisik) adalah fenomena di mana seseorang makan untuk mengatasi rasa negatif seperti stres, kesepian, kecemasan, atau bosan.
Beberapa mekanisme yang menjelaskan mengapa stres memicu pola makan:
-Saat stres, hormon kortisol meningkat, yang bisa memicu keinginan makan makanan tinggi.
-Kondisi stres dapat menurunkan kemampuan seseorang mengenali sinyal lapar dan kenyang secara benar, sehingga makan bukan karena kebutuhan fisik.
-Makanan yang tinggi gula dan lemak dapat memberikan sensasi relaksasi sementara untuk pikiran, sehingga menjadi mekanisme pelampiasan emosi.

Beberapa faktor yang memperkuat hubungan antara stres dan obesitas melalui pola makan:
-Jenis kelamin: Pada penelitian, remaja yang mengalami “stress-driven eaters” ditemukan jauh lebih banyak pada perempuan (43 %) dibanding laki-laki (15 %).
-Kualitas tidur: Orang yang kurang tidur memicu emotional eating, sehingga memiliki kerentanan lebih besar dalam mengalami kenaikan berat badan.
-Lingkungan & kebiasaan makan: Misalnya, makan yang terlalu cepat, makan tanpa sadar, konsumsi berat junk food, dan stres pekerjaan.

Strategi mengatasi emotional eating dan pencegahan obesitas
Berikut ini strategi yang bisa diterapkan untuk mengatasi kecenderungan makan sebagai respons stres dan mencegah obesitas:
a. Sadari pemicunya
-Kenali kapan waktu-waktu Anda makan bukan karena lapar tetapi karena stres, bosan, sedih, atau isolasi.
-Catat perasaan dan keadaan sekitar sebelum makan: apakah benar lapar fisik atau “lapar emosional”.
b. Ganti respons stres dengan aktivitas yang sehat
-Lakukan aktivitas pengalih stress, seperti jalan kaki, stretching, meditasi ringan, berbicara dengan teman.
-Latihan berkesadaran (mindfulness) saat makan, dengan cara makan secara perlahan, nikmati rasa, dan jangan sambil menonton/scrolling media sosial.
c. Atur lingkungan dan pilihan makanan
-Sediakan camilan sehat (buah, kacang, yogurt) agar saat “emotional hunger” tidak otomatis memilih makanan tinggi lemak/gula.
-Hindari menyimpan terlalu banyak makanan “comfort” di rumah yang mudah dimakan saat stres.
d. Perbaiki kebiasaan tidur dan aktivitas fisik
-Pastikan tidur yang cukup dan berkualitas, karena kurang tidur memperbesar risiko emotional eating.
-Aktivitas fisik rutin membantu mengurangi stres dan mengatur nafsu makan secara lebih sehat.
Apakah Anda sering stres, sulit menjaga pola makan, atau bingung mengontrol berat badan? Kini saatnya konsultasi secara online di aplikasi Konsuldong, aplikasi kesehatan online yang siap menemani perjalanan sehatmu. Yuk download aplikasi Konsuldong sekarang!
Referensi:
-Relationship between stress, eating behavior, and obesity. https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/16247505/
-Stress-related eating, obesity and associated behavioural traits in adolescents. https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/24708823/
-https://www.verywellhealth.com/how-to-stop-overeating-8636815
Health
3 hari yang lalu

News
7 hari yang lalu

Health
1 minggu yang lalu

Health
1 minggu yang lalu

Health
1 minggu yang lalu
