dr. Christian
admin
Health
1 bulan yang lalu

Overthinking (Pikiran berlebihan) sering digambarkan sebagai kebiasaan memikirkan suatu masalah secara berlarut‑larut, mengulang pikiran negatif, kekhawatiran berlebihan terhadap masa lalu atau masa depan, dan ketidakmampuan untuk “melepaskan” pikiran tersebut. Overthinking bukan hanya gangguan mental, melainkan suatu bentuk stimulus psikologis kronis yang dapat memicu respons fisiologis di dalam tubuh. Yuk, kita kenali lebih dalam!

Bagaimana Overthinking Bisa Berpotensi Membahayakan Jantung dan Otak?
Dampak pada Jantung
1. Peningkatan tekanan darah dan Gangguan Irama jantung
Overthinking memicu stress psikologis yang dapat meningkatkan aktivasi sistem simpatis (fight-or-flight), dan melemahkan sistem parasimpatis (rest-and-digest). Ketidakseimbangan ini dapat menurunkan variabilitas detak jantung/ Heart Rate Variability (HRV), yang merupakan indikator keseimbangan otonom. Dimana bila HRV rendah, risiko kardiovaskular akan lebih tinggi.
2. Aterosklerosis dan Disfungsi Endotel
Stres psikologis yang kronis dapat mengganggu produksi nitric oxide (NO) di dinding pembuluh darah, meningkatkan peradangan lokal dan memicu pelepasan sitokin (cytokine) proinflamasi. Serangkaian reaksi ini menimbulkan dampak pembuluh darah menjadi kurang elastis, dan berpotensi terjadi aterosklerosis (pembentukan plak di pembuluh darah).

3. Kardiomiopati stres (Takotsubo cardiomyopathy)
Dalam kasus stres psikologis yang ekstrem, pelepasan hormon katekolamin yang besar dapat menyebabkan cedera sel otot jantung, vasokonstriksi mikro, dan disfungsi ventrikel yang mirip dengan gambaran klinis pada serangan jantung.
4. Iskemia jantung pada stres mental
Orang dengan penyakit jantung koroner, apabila memiliki stres mental yang terpicu maka dapat menyebabkan iskemia miokard (berkurangnya aliran darah ke otot jantung) yang memicu infark atau komplikasi lainnya.
5. Stres Oksidatif
Respon stres berulang bisa meningkatkan produksi radikal bebas, menurunkan kapasitas antioksidan didalam tubuh, yang dalam jangka panjang dapat merusak sel otak dan sel vaskular. Kondisi stress berulang ini dapat memicu produksi hormon stres (kortisol, catecholamines) yang meningkat, serta berdampak pada regulasi glukosa, tekanan darah, dan profil lipid.
Dampak pada Otak
Overthinking juga dapat mempengaruhi otak dari sisi fungsi, struktur, dan risiko penyakit neurologis / kesehatan mental seperti:
1. Gangguan kognitif dan penurunan fungsi eksekutif
Stres jangka panjang dapat mengganggu perhatian, konsentrasi, memori kerja, hingga pengambilan keputusan. Aktivitas berlebihan di jaringan amigdala bisa mengurangi efisiensi fungsi kognitif.
2. Perubahan struktural otak
Kondisi stres kronis bisa berhubungan dengan atrofi (penurunan volume) di hipokampus, korteks prefrontal, dan konektivitas saraf yang terganggu.

3. Risiko gangguan mood / kecemasan / depresi
Overthinking sering menjadi bagian dari gejala kecemasan dan depresi. Gangguan mood yang terjadi akan memperburuk proses inflamasi, meningkatkan stres oksidatif, dan menimbulkan disfungsi otonom yang mempengaruhi otak.
4. Neuroinflamasi & stres oksidatif lokal di otak
Stres kronis dapat memicu jalur reaksi proinflamasi dalam sistem saraf pusat, yang dapat meningkatkan produksi radikal bebas, menurunkan mekanisme antioksidan di neuron / saraf, yang berpotensi merusak jaringan otak.
5. Disregulasi sistem limbik dan respons emosional
Aktivasi berulang amigdala dan gangguan komunikasi dengan korteks prefrontal (yang seharusnya mengatur emosi) dapat memperkuat respon negatif yang membuat penderitanya menjadi mudah marah, susah memusatkan pikiran, hingga rentan stres.

6. Potensi percepatan penyakit neurodegeneratif
Meskipun bukti langsung belum kuat, stres kronis dan inflamasi dalam jangka panjang dianggap sebagai faktor risiko yang mungkin berkontribusi terhadap perkembangan penyakit Alzheimer, Demensia vaskular, atau gangguan neurodegeneratif lainnya.
Bagaimana Mengelola Overthinking agar tidak merugikan Kesehatan?
-Mindfulness, meditasi dan relaksasi
Dapat menurunkan aktivasi sistem saraf simpatik, menstimulasi saraf parasimpatis, mengurangi stres dan meningkatkan fungsi jantung.

-Olahraga fisik secara teratur
Aktivitas fisik moderat hingga intens mampu menurunkan respon stres sistemik, meningkatkan respon vaskular, dan mendukung regulasi hormonal & neurobiologis.
-Tidur Cukup dan Berkualitas
Overthinking sering memicu insomnia atau gangguan tidur. Kurang tidur sendiri dapat memperburuk stres dan memicu kerentanan otak/jantung. Menjaga kebiasaan tidur yang baik (sleep hygiene) sangat penting.
-Manajemen Waktu dan batasi pikiran

-Dukungan Sosial dan Komunikasi
-Terapi kognitif-perilaku (CBT) / terapi psikologis
Terapi ini membantu mengenali pola pikir berlebihan, menggantinya dengan pemikiran adaptif, dan mengurangi stres serta kekhawatiran berlebihan sejak dini. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa CBT dapat menurunkan laju jantung (HR) pada orang dengan gangguan kecemasan.

Kebiasaan memikirkan hal-hal secara berlebihan, berulang‑ulang, dan negatif bukan sekadar gangguan psikologis ringan, tetapi dapat membawa dampak nyata bagi kesehatan jantung dan otak. Oleh karena itu, overthinking sebaiknya tidak disepelekan.
Yuk, konsultasi online di aplikasi Konsuldong. Silahkan konsultasikan dengan dokter kami untuk memahami lebih dalam dan dapatkan petunjuk penanganan yang tepat!
Referensi:
-https://www.nhlbi.nih.gov/news/2024/why-mental-stress-can-take-toll-heart
-https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC9369438
-https://newsroom.heart.org/news/mental-wellness-is-important-for-a-healthy-heart-and-brain/
Health
3 hari yang lalu

News
7 hari yang lalu

Health
1 minggu yang lalu

Health
1 minggu yang lalu

Health
1 minggu yang lalu
