dr. Christian
admin
Health
4 hari yang lalu

Ditinjau oleh Redaksi Konsuldong
Penggunaan obat pereda nyeri yang dijual bebas, seperti parasetamol selama kehamilan, telah menjadi topik perdebatan di kalangan medis dan ilmiah. Khususnya sejak tahun 2021 dan akhir-akhir ini yang mencuat kembali sejak adanya imbauan dari US FDA/ United States Food and Drug Administration di bulan September 2025 baru-baru ini. Meskipun sering dianggap aman, beberapa penelitian terbaru menimbulkan kekhawatiran tentang potensi hubungannya dengan risiko autisme dan ADHD (Attention-Deficit/Hyperactivity Disorder) pada anak.

Studi dan Temuan yang Mengkhawatirkan
Sebuah studi besar yang dipublikasikan di American Journal of Epidemiology menyoroti hubungan antara penggunaan parasetamol oleh ibu hamil dengan peningkatan risiko autisme dan ADHD pada anak-anak. Para peneliti mengamati bahwa paparan di masa prenatal terhadap obat ini dapat mengganggu perkembangan neurologis janin.
Penelitian lain dari Harvard T.H. Chan School of Public Health juga menemukan adanya risiko yang sama. Para ahli berpendapat bahwa meskipun peningkatannya kecil, temuan ini cukup signifikan untuk mendorong para ibu hamil agar lebih berhati-hati terhadap konsumsi parasetamol. Mekanisme yang dicurigai adalah bahwa parasetamol dapat mengganggu metabolisme hormon penting yang berperan dalam perkembangan otak janin.
Selain itu, sebuah surat yang ditandatangani oleh 91 ilmuwan dan dokter dari seluruh dunia menyerukan adanya pedoman baru yang lebih ketat untuk penggunaan parasetamol pada ibu hamil. Mereka meminta agar ibu hamil diberi peringatan yang jelas dan hanya menggunakan obat ini saat benar-benar diperlukan dan dengan dosis efektif terendah.

Apa yang Harus Dilakukan?
Meskipun temuan-temuan ini menimbulkan kekhawatiran, penting untuk memahami bahwa studi-studi tersebut hanya menunjukkan hubungan, bukan sebab-akibat. Artinya, ada korelasi, tetapi tidak ada bukti pasti bahwa parasetamol secara langsung menyebabkan autisme atau ADHD.
Para ahli menyarankan agar ibu hamil tetap bisa menggunakan parasetamol untuk mengatasi demam atau nyeri hebat. Namun, ada beberapa pedoman penting yang harus diikuti:
1. Gunakan dengan bijak. Jangan mengkonsumsi parasetamol secara rutin atau dalam jangka panjang. Gunakan hanya saat benar-benar diperlukan.
2. Selalu gunakan dosis efektif terendah dan sesingkat mungkin.
3. Sebelum mengonsumsi obat apa pun saat hamil, termasuk parasetamol, selalu konsultasikan dengan dokter kandungan Anda. Dokter akan membantu menimbang antara manfaat dan risiko berdasarkan kondisi kesehatan Anda.
4. Perhatikan juga kandungan tambahan yang ada di dalam produk. Agar aman, sebisa mungkin hindari konsumsi paracetamol yang mengandung campuran kodein, aspirin, atau obat anti inflamasi non steroid lainnya.
Sebagai perbandingan, demam tinggi saat hamil juga bisa berbahaya bagi janin. Dalam kasus ini, penggunaan parasetamol di bawah pengawasan dokter mungkin menjadi pilihan yang lebih aman dibandingkan membiarkan demam tidak diobati.

Kesimpulan
Bukti ilmiah tentang hubungan antara parasetamol dan autisme atau ADHD masih terus berkembang dan belum konklusif. Namun, temuan ini memberikan alasan kuat untuk lebih berhati-hati. Selalu berdiskusi dengan dokter Anda adalah langkah terbaik untuk memastikan kesehatan Anda dan bayi Anda.
Untuk mendapatkan nasihat medis yang tepat dan terpercaya sesuai kondisi Anda, jangan ragu untuk berdiskusi langsung dengan ahlinya. Unduh aplikasi Konsuldong sekarang dan hubungkan diri Anda dengan dokter profesional yang siap memberikan bimbingan serta rekomendasi terbaik seputar penggunaan obat saat kehamilan, kapan pun dan di mana pun.
Sumber:
Health
4 minggu yang lalu

Health
4 minggu yang lalu

Health
4 minggu yang lalu

Health
1 bulan yang lalu

Health
1 bulan yang lalu
