dr. Christian
admin
Health
1 bulan yang lalu

Sembelit (konstipasi) adalah kondisi ketika seseorang sulit untuk buang air besar, kondisi dimana tinja memiliki konsistensi keras, frekuensi Buang air besar berkurang, atau rasa tidak tuntas setelah buang air besar. Dalam suatu penelitian, dikatakan bahwa wanita menunjukkan gejala gangguan pencernaan (seperti sembelit) lebih sering dibanding pria, dan gejala ini di fase pra-menopause umumnya lebih terasa daripada setelah menopause, walaupun setelah menopause wanita lebih cenderung mengalami gejala seperti “digital maneuvers” (menggunakan jari untuk membantu mengeluarkan tinja). Salah satu hipotesis utama yang menjelaskan kerentanan ini adalah peran hormon seks serta interaksinya dengan sistem pencernaan, sistem saraf usus, dan mikrobiota.
Artikel ini akan membahas bagaimana hormon-hormon seperti estrogen, progesteron, hormon kortisol, dan hormon lainnya dapat memengaruhi motilitas / pergerakan usus, sensitivitas usus, serta faktor-faktor lainnya, termasuk mengapa wanita tampak lebih rentan terhadap sembelit.
Hormon Seks dan Mekanisme yang Mempengaruhi Usus
Berikut adalah hormon utama yang dianggap ikut memengaruhi konstipasi, terutama pada wanita:

1. Estrogen
Hormon Estrogen dapat memengaruhi regulasi motilitas / pergerakan usus melalui pengaruhnya pada sistem saraf pusat dan saraf spinal yang mengendalikan refleks defekasi (proses pembuangan atau pengeluaran sisa metabolisme berupa feses).
Penelitian tentang “Sex hormones in the modulation of irritable bowel syndrome”, menjelaskan bahwa hormon estrogen dapat berinteraksi dengan hormon serotonin, sistem imun mukosa dan barrier usus, yang secara kolektif memengaruhi motilitas, sensitivitas viseral, hingga permeabilitas usus. Estrogen juga dapat merubah komposisi mikrobiota sehingga memengaruhi fungsi pencernaan dan motilitas usus.
2. Progesteron
Peningkatan hormon progesteron (khususnya pada fase luteal atau pada masa kehamilan) mengendurkan otot polos, sehingga motilitas usus menjadi lebih lambat.
3. Androgen
Hormon Androgen (testosteron) tampak memiliki efek yang berlawanan terhadap pengaruh estrogen dalam beberapa konteks regulasi usus. Tingkat hormon androgen pada perempuan mungkin memengaruhi keseimbangan hormon seks dan mengurangi efek estrogen dalam saluran pencernaan.
4. Kortisol
Kondisi stres jangka panjang menyebabkan peningkatan produksi hormon kortisol. Kortisol dapat memengaruhi keseimbangan cairan, penyempitan pembuluh darah lokal, serta regulasi sistem saraf otonom yang memprioritaskan respon “fight-or-flight” dan mengurangi suplai aliran darah pada organ pencernaan. Hal ini bisa memperlambat gerakan peristaltik usus dan memperburuk konstipasi.

Mengapa Wanita Lebih Rentan Konstipasi?
Berdasarkan pengaruh hormon di atas, berikut ini beberapa alasan mengapa wanita tampaknya lebih rentan mengalami sembelit:
1. Fluktuasi hormonal berkala sepanjang siklus menstruasi.
Wanita mengalami fluktuasi hormon estrogen dan progesteron setiap siklus menstruasi, yang dapat memicu fase dengan pergerakan usus yang lebih lambat.
2. Pengaruh estrogen jangka panjang.
Karena wanita memiliki paparan hormon estrogen lebih besar (ovarium, siklus hormonal, kehamilan), efek estrogen pada motilitas usus menjadi lebih signifikan.
3. Interaksi hormon dengan respon stress
Wanita bisa memiliki respons stres yang berbeda sehingga memicu peningkatan produksi hormon kortisol yang memperlambat pergerakan usus sehingga menimbulkan konstipasi.
4. Mikrobiota yang dipengaruhi hormon (microgenderome).
Pengaruh estrogen dan hormon seks lainnya pada mikrobiota usus dapat memengaruhi fermentasi, produksi gas, motilitas, dan peradangan lokal. Wanita mengalami perubahan hormonal (misalnya menopause) yang secara tidak langsung mengubah mikrobiota usus dan fungsi pencernaan.
5. Respon visceral / sensitivitas usus lebih tinggi
Wanita cenderung memiliki sensitivitas viseral yang lebih besar dalam gangguan pencernaan, sehingga perubahan kecil dalam motilitas usus dapat menimbulkan gejala rasa penuh, dan kesulitan buang air besar.
6. Perubahan hormon selama fase kehidupan (kehamilan, menopause, perimenopause)
Wanita dalam fase hidupnya akan melalui periode dengan kadar hormon yang ekstrem (seperti kehamilan dengan progesteron tinggi, atau menopause dengan estrogen rendah). Dimana momen-momen tersebut seringkali ditandai dengan masalah pencernaan termasuk sembelit.
7. Faktor non-hormonal yang berpengaruh
Meski hormon memainkan peran besar, faktor lain seperti aktivitas fisik, asupan serat, hidrasi, penggunaan obat (misalnya suplemen zat besi), disfungsi panggul (pada wanita setelah melahirkan), dan struktur anatomi (kolon lebih panjang atau tortuositas) turut berkontribusi terhadap risiko terjadinya konstipasi / sembelit pada wanita.
Sembelit bisa jadi tanda gangguan hormon atau pola makan yang salah. Yuk, cari tahu penyebabnya melalui konsultasi online di aplikasi Konsuldong. Konsultasi bersama dokter-dokter kami yang akan dengan senang hati membantu Anda.
Referensi:
-World Jurnal Gastroenterology. Sex hormones in the modulation of irritable bowel syndrome.
Health
3 hari yang lalu

News
7 hari yang lalu

Health
1 minggu yang lalu

Health
1 minggu yang lalu

Health
1 minggu yang lalu
