Anto Wijaya
admin
Health
2 bulan yang lalu

Ditinjau oleh Redaksi Konsuldong
Pernahkah Anda mendengar tentang stevia, pemanis alami yang sering disebut lebih sehat dibanding gula biasa? Banyak orang kini beralih menggunakan stevia untuk mengurangi risiko penyakit akibat konsumsi gula berlebih, seperti diabetes, obesitas, hingga gangguan jantung. Namun, benarkah stevia benar-benar lebih sehat daripada gula pasir yang sering kita konsumsi sehari-hari? Mari kita kupas faktanya.

Apa Itu Stevia?
Stevia adalah pemanis alami yang berasal dari daun tanaman Stevia rebaudiana. Pemanis ini mengandung senyawa steviol glikosida yang rasanya bisa mencapai 200–300 kali lebih manis daripada gula biasa, namun hampir tidak mengandung kalori. Inilah alasan mengapa stevia kerap menjadi pilihan bagi mereka yang ingin menjaga berat badan atau mengontrol kadar gula darah.
Stevia vs Gula Biasa
· Kandungan Kalori: Gula pasir mengandung sekitar 4 kalori per gram, sedangkan stevia hampir tidak mengandung kalori.
· Dampak pada Gula Darah: Konsumsi gula biasa dapat meningkatkan kadar glukosa darah dengan cepat, sementara stevia tidak menimbulkan lonjakan gula darah, sehingga lebih aman bagi penderita diabetes.
· Efek pada Kesehatan: Konsumsi gula berlebih dikaitkan dengan peningkatan risiko obesitas, diabetes tipe 2, dan penyakit jantung. Stevia, sebaliknya, dinilai lebih aman bila digunakan dalam jumlah wajar.
· Rasa dan Penggunaan: Stevia memiliki rasa manis yang kuat, tetapi sebagian orang merasa ada sensasi aftertaste pahit. Akhir-Akhir ini penggunaannya semakin populer dalam minuman, makanan, dan produk kesehatan.
Apakah Aman Dikonsumsi?
Menurut WHO dan FDA, stevia dinyatakan aman dikonsumsi sepanjang tidak melebihi batas asupan harian (acceptable daily intake/ADI) yaitu 4 mg/kg berat badan per hari. Artinya, stevia bisa menjadi alternatif sehat asalkan tidak digunakan berlebihan.
Konsultasi Sekarang!
Stevia memang lebih sehat dibanding gula biasa, terutama bagi penderita diabetes atau mereka yang ingin mengurangi asupan kalori. Namun, tetap penting untuk menjaga pola makan seimbang, karena pemanis apapun jika dikonsumsi berlebihan bisa berdampak kurang baik bagi tubuh.
Ingin tahu tips kesehatan lainnya dan konsultasi langsung dengan dokter berpengalaman? Yuk, gunakan aplikasi Konsuldong untuk mendapatkan informasi terpercaya dan konsultasi kesehatan lebih mudah kapan saja!
Referensi:
1. World Health Organization. (2022). WHO Guideline on the use of non-sugar sweeteners. https://www.who.int/publications/i/item/9789240073616
2. U.S. Food and Drug Administration (FDA). (2023). Additional Information about High-Intensity Sweeteners Permitted for Use in Food in the United States. https://www.fda.gov/food/food-additives-petitions/additional-information-about-high-intensity-sweeteners-permitted-use-food-united-states
3. Goyal, S.K., Samsher, R.K. Goyal. (2010). Stevia (Stevia rebaudiana) a bio-sweetener: A review. International Journal of Food Sciences and Nutrition, 61(1), 1–10. https://www.tandfonline.com/doi/full/10.3109/09637480903193049
Health
3 hari yang lalu

News
7 hari yang lalu

Health
1 minggu yang lalu

Health
1 minggu yang lalu

Health
1 minggu yang lalu
