dr. Christian
admin
Health
2 bulan yang lalu

Ditinjau oleh Redaksi Konsuldong
Istilah "makanan olahan" seringkali digeneralisasi. Kita menganggapnya sama buruknya dengan junk food, padahal faktanya tidak semua makanan olahan itu jahat. Lalu, apa perbedaannya? Makanan olahan (processed food) adalah jenis makanan apa pun yang sudah diubah dari bentuk aslinya. Perubahan ini bisa sesederhana dipotong, dicuci, dipanaskan, dipasteurisasi, dikalengkan, dimasak, dibekukan, dikeringkan, atau dikemas. Bisa juga ditambahkan bahan pengawet, nutrisi, perasa, garam, gula, atau lemak.
Seringkali, orang menganggap makanan olahan itu "buruk." Padahal, ada banyak makanan olahan yang sebenarnya sehat dan bernutrisi. Masalah sebenarnya terletak pada makanan ultra-olahan (ultra processed food), dimana kategori makanannya adalah makanan yang dirancang secara ilmiah untuk merusak kesehatan Anda. Yuk kita bahas lebih dalam!

Perbedaan Antara Makanan Olahan dan Ultra-Olahan
Sangat penting untuk memahami perbedaannya:
-Makanan olahan / processed food adalah makanan yang melewati beberapa tahap pengolahan, tetapi masih mempertahankan nutrisi dasarnya. Contohnya termasuk sayuran beku, tuna kaleng, susu pasteurisasi, atau gandum utuh yang digiling. Proses ini dilakukan untuk alasan keamanan, pengawetan, atau membuatnya lebih mudah dikonsumsi.
Makanan ultra-olahan / ultra processed food adalah makanan yang tidak bisa dibuat di dapur rumah tangga. Bahan-bahannya seringkali merupakan ekstrak dari makanan lain (seperti minyak terhidrogenasi, sirup jagung fruktosa tinggi), ditambah dengan zat aditif seperti pengemulsi, perisa, dan pewarna buatan. Jika daftar bahan-bahannya lebih mirip tabel kimia daripada resep masakan, maka itu adalah jenis makanan ultra-olahan.

Ultra Processed Food, Makanan yang Membuat Candu
Makanan ultra-olahan tidak dibuat untuk menyehatkan, tetapi untuk dijual. Mereka dirancang untuk membuat kita ketagihan. Kombinasi sempurna dari gula, garam, dan lemak, yang disebut "bliss point" atau titik kenikmatan, memicu pusat kenikmatan di otak. Ini membuat kita sulit untuk berhenti makan, mendorong konsumsi berlebihan dan berujung penambahan berat badan.
Selain itu, makanan ini seringkali sangat rendah serat dan air, sehingga tidak memberikan rasa kenyang yang lama. Ini membuat kita merasakan lapar lebih cepat, memicu kita untuk makan lebih banyak lagi.

Konsumsi makanan ultra-olahan yang berlebihan tidak hanya menyebabkan obesitas, tetapi juga terkait erat dengan berbagai penyakit kronis. Mereka seringkali tinggi kalori, tetapi rendah nutrisi penting seperti serat, vitamin, dan mineral. Pola makan seperti ini dapat meningkatkan risiko:
-Penyakit Jantung. Lemak trans dan lemak jenuh yang tinggi dapat meningkatkan kadar kolesterol jahat (LDL) dan merusak pembuluh darah.
-Diabetes Tipe 2. Kandungan gula dan karbohidrat olahan yang tinggi menyebabkan lonjakan gula darah yang berulang, membuat tubuh resisten terhadap insulin seiring waktu.
-Masalah Kesehatan Mental. Beberapa penelitian menunjukkan adanya kaitan antara konsumsi makanan ultra-olahan dan peningkatan risiko depresi serta kecemasan.
-Peradangan Kronis. Kandungan lemak tidak sehat dan zat aditif buatan dapat memicu peradangan di dalam tubuh, yang merupakan akar dari banyak penyakit kronis.

Tips Praktis: Memilih Makanan dengan Cerdas
Tidak perlu menjadi ahli gizi untuk menghindari jebakan makanan ultra-olahan. Cukup ikuti beberapa tips sederhana ini:
Untuk membantu Anda membuat pilihan makanan yang lebih sehat dan memantau nutrisi Anda setiap hari, silahkan unduh aplikasi konsuldong di gadget Anda. Aplikasi ini dapat membantu Anda mendapatkan informasi nutrisi yang tepat dari dokter-dokter terpercaya di konsuldong.
Sumber :
Health
3 hari yang lalu

News
7 hari yang lalu

Health
1 minggu yang lalu

Health
1 minggu yang lalu

Health
1 minggu yang lalu
