dr. Christian
admin
Health
3 jam yang lalu

Adiksi atau kecanduan seringkali disalah pahami hanya sebagai kurangnya kemampuan pengendalian diri. Namun, secara medis, adiksi adalah kondisi kronis yang kompleks dimanamelibatkan perubahan pada sistem reward, motivasi, dan memori di otak. Adiksi bukan sekadar masalah moral atau kurangnya niat untuk berhenti, namun adiksi adalah gangguan pada sistem komunikasi otak. Yuk kita bahas lebih lanjut!
Untuk memahami mengapa seseorang sulit lepas dari kecanduan, kita perlu melihat bagaimana berbagai faktor biologis saling mempengaruhi secara sistemik. Berikut adalah 5 insight mendalam mengenai hubungan antara organ tubuh dan perilaku adiksi:

Otak memiliki bagian bernama Frontal Lobe yang berfungsi sebagai sistem pengerem alami. Bagian ini bertanggung jawab untuk logika, perencanaan, dan menunda keinginan demi tujuan jangka panjang. Pada penderita adiksi, sirkuit ini melemah. Akibatnya, penderita kehilangan kemampuan untuk berkata "tidak" pada keinginan impulsif, meskipun mereka tahu dampaknya buruk. Inilah mengapa niat saja sering kali tidak cukup tanpa adanya pemulihan fungsi saraf.
Hubungan Frontal Lobe di atas sangat bergantung pada hormon Dopamin. Adiksi (baik zat maupun perilaku) membajak sistem ini dengan memberikan lonjakan dopamin yang tidak alami. Otak kemudian "belajar" bahwa zat tersebut adalah sumber kebahagiaan utama, sehingga motivasi untuk melakukan aktivitas normal (seperti bekerja atau bersosialisasi) meredup karena tidak mampu menandingi intensitas dopamin dari objek adiksi tersebut.

Mengapa makanan atau kesehatan fisik mempengaruhi adiksi? Karena 90% serotonin (hormon penenang) dan sebagian besar prekursor dopamin diproduksi di usus. Jika kesehatan usus buruk (akibat pola makan tidak sehat), produksi hormon ini terganggu. Ketidakseimbangan di usus mengirimkan sinyal stres ke otak, yang memicu rasa cemas dan gelisah. Untuk meredakan rasa tidak nyaman ini, otak cenderung mencari pelarian instan melalui perilaku adiksi.
Kesehatan usus yang buruk dan stres dapat menyebabkan peradangan sistemik yang merambat hingga ke otak (Neuroinflamasi). Peradangan ini membuat sel-sel otak menjadi kurang sensitif terhadap dopamin alami. Akibatnya, seseorang merasa "hampa" atau depresi, sehingga mereka membutuhkan dosis zat adiksi yang lebih tinggi lagi untuk sekadar merasa "normal". Peradangan inilah yang menciptakan lingkaran setan toleransi zat.
Terakhir, faktor genetik menentukan seberapa cepat tubuh seseorang melakukan detoksifikasi terhadap zat dan seberapa sensitif reseptor otak mereka. Seseorang dengan variasi genetik tertentu mungkin lebih lambat membuang racun dari tubuh atau lebih cepat mengalami depresi saat zat tersebut dihentikan. Memahami profil genetik dapat membantu kita menyadari bahwa setiap orang memiliki ambang batas yang berbeda dalam menghadapi risiko adiksi.

Memahami adiksi berarti memahami bahwa tubuh kita adalah satu kesatuan sirkuit. Pemulihan tidak hanya soal berhenti mengonsumsi zat, tapi juga perihal cara memperbaiki fungsi otak, menyehatkan pencernaan, dan meredakan peradangan tubuh.
Mari Mulai Langkah Sehatmu Bersama Konsuldong! Memulai perjalanan pemulihan atau sekadar berkonsultasi mengenai keluhan kesehatan fisik dan mental tidak harus sulit. Kami hadir untuk membantu Anda mendapatkan akses kesehatan yang komprehensif.
Segera unduh aplikasi Konsuldong. Dapatkan kemudahan berkonsultasi dengan dokter ahli secara online, akses informasi kesehatan yang akurat, dan layanan kesehatan lainnya hanya dalam satu genggaman. Jangan tunda kesehatan Anda, karena setiap langkah kecil sangat berarti.
👉Unduh Konsuldong sekarang di Play Store atau App Store!
-https://www.healthline.com/health/addiction
-https://my.clevelandclinic.org/health/diseases/6407-addiction
Health
3 jam yang lalu

Health
1 hari yang lalu

Health, News
2 hari yang lalu

News
3 hari yang lalu

Health
3 hari yang lalu

Health
4 hari yang lalu
