dr. Christian
admin
Health
3 bulan yang lalu

Ditinjau oleh Redaksi Konsuldong
PM2.5 adalah singkatan dari Particulate Matter 2.5, yang merupakan partikel udara yang berukuran lebih kecil atau sama dengan 2,5 mikrometer (μm). PM2.5 berasal dari berbagai sumber meliputi emisi asap kendaraan bermotor, proses industri, pembakaran bahan bakar fosil seperti batu bara dan minyak bumi, hingga pembakaran sampah, serta debu dari lokasi konstruksi pembangunan. PM2.5 juga dapat terbentuk di atmosfer melalui reaksi kimia dari gas-gas seperti sulfur dioksida (SO2) dan nitrogen oksida (NO2).

Partikel-partikel PM2.5 dapat menyebabkan masalah kesehatan yang serius, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Partikel PM2.5 sangat kecil sehingga mudah diserap oleh aliran darah dan dapat masuk sangat dalam ke organ paru-paru kita.
Beberapa kelompok orang cenderung lebih rentan terhadap polusi udara, antara lain orang dengan penyakit asthma, penyakit paru, dan penyakit jantung. Mereka merupakan kelompok orang yang sangat terdampak dan seharusnya mengurangi waktu yang mereka habiskan dengan menghirup udara yang berpolusi. Ibu hamil dan bayi dalam kandungan juga berisiko, serta anak kecil hingga orang lanjut usia.

Paparan jangka pendek terhadap PM2.5 nampaknya dapat memperparah masalah kesehatan yang sudah ada sebelumnya (pre-existing condition). Jangka pendek dalam konteks ini berarti paparan selama berhari-hari ataupun hanya berjam-jam. Beberapa Penyakit yang dapat ditimbulkan akibat paparan PM2.5 dalam jangka pendek adalah sebagai berikut:
Paparan jangka panjang terhadap PM2.5 tidak hanya menyebabkan penyakit, tetapi juga mempercepat perkembangan suatu penyakit yang kronis (seberapa cepat Anda terserang penyakit dengan derajat berat). Jangka panjang dalam konteks ini berarti paparan selama bertahun-tahun. Beberapa Penyakit yang dapat ditimbulkan akibat paparan PM2.5 dalam jangka panjang adalah sebagai berikut:

Beberapa polutan seperti logam berat, bahan partikulat (particulate matter atau PM) dapat mengganggu suplai darah terhadap plasenta (ari-ari). Hal tersebut menyebabkan masalah terkait pertumbuhan dan fungsi plasenta sehingga akhirnya berdampak terhadap perkembangan janin. Polutan-polutan tersebut masuk ke dalam aliran darah si janin, dan kemudian dapat menimbulkan disabilitas fisik, masalah neurologis (saraf), dan disabilitas intelektual.
Bahkan pada tingkat konsentrasi sangat rendah, PM2.5 tetap dapat berdampak pada kesehatan. Faktanya, tidak ada ambang batas aman jumlah PM yang tidak menyebabkan masalah kesehatan.
Oleh karena itu, perlu dilakukan pencegahan untuk mengurangi paparan PM2.5 seperti:
- Gunakan masker yang memenuhi standar, seperti masker N95 atau masker medis lainnya.
- Gunakan pembersih udara didalam ruangan untuk membantu menghilangkan PM2.5 dari udara yang dihirup.
- Gunakan penyedot debu untuk mencegah partikel berhamburan saat membuang sampah.
- Batasi aktivitas di luar ruangan saat kualitas udara buruk.
- Setelah berada dari luar, bersihkan diri untuk menghilangkan partikel PM2.5 yang mungkin menempel pada kulit.
- Cek kualitas udara melalui aplikasi yang menyediakan informasi kualitas udara untuk memantau Tingkat PM2.5 dan menyesuaikan aktifitas.

Semoga artikel ini bermanfaat untuk Anda, dan jika ada yang ingin didiskusikan lebih lanjut, kami siap membantu. Silahkan download aplikasi konsuldong, dan hubungi dokter-dokter yang akan dengan senang hati membantu Anda
Referensi:
- https://pubs.acs.org/doi/10.1021/acs.estlett.8b00360
- https://www.mdpi.com/1660-4601/16/19/3720
Health
3 hari yang lalu

News
7 hari yang lalu

Health
1 minggu yang lalu

Health
1 minggu yang lalu

Health
1 minggu yang lalu
