dr. Christian
admin
Health
3 jam yang lalu

Pernah tiba-tiba merasa sebuah kejadian terasa sangat familiar, padahal sebenarnya baru pertama kali mengalaminya? Misalnya saat berada di tempat baru, mendengar percakapan tertentu, atau bertemu seseorang lalu muncul perasaan, “Kayaknya aku pernah mengalami ini sebelumnya.” Fenomena tersebut dikenal dengan istilah déjà vu.

Déjà vu merupakan pengalaman yang cukup umum dan bisa dialami hampir oleh semua orang. Meski sering dikaitkan dengan hal mistis, sebenarnya kondisi ini lebih berhubungan dengan cara otak memproses memori dan informasi. Mari kita bahas lebih lanjut!
Istilah déjà vu berasal dari bahasa Prancis yang berarti “sudah pernah melihat” atau “sudah pernah mengalami”. Kondisi ini adalah sensasi ketika seseorang merasa situasi yang sedang terjadi terasa sangat familiar, walaupun sebenarnya kejadian tersebut baru pertama kali dialami.
Fenomena ini biasanya berlangsung singkat, hanya beberapa detik, lalu menghilang dengan sendirinya.
Sampai saat ini, penyebab pasti déjà vu belum diketahui secara penuh. Namun beberapa penelitian menunjukkan bahwa kondisi ini kemungkinan berkaitan dengan proses memori di otak.
Otak manusia bekerja sangat cepat dalam menerima dan menyimpan informasi. Pada déjà vu, diduga terjadi “kesalahan kecil” dalam proses pengenalan memori sehingga pengalaman baru terasa seperti ingatan lama.

Beberapa faktor yang diduga dapat memicu déjà vu lebih sering antara lain:
a. kurang tidur,
b. stres atau kelelahan,
c. kecemasan,
d. tekanan emosional,
e. dan aktivitas otak yang sudah sangat lelah.
Déjà vu lebih sering dialami oleh remaja dan dewasa muda dibanding usia lanjut.
Pada kebanyakan orang, déjà vu bukan kondisi berbahaya dan tidak memerlukan pengobatan khusus. Sensasi ini umumnya normal bila hanya terjadi sesekali.
Namun pada sebagian kecil kasus, déjà vu yang terlalu sering atau disertai gejala lain dapat berhubungan dengan gangguan neurologis tertentu, terutama epilepsi lobus temporal. Pada kondisi tersebut, déjà vu bisa muncul pada waktu sebelum kejang terjadi.
Karena itu, sebaiknya waspada bila déjà vu disertai:
1. hilang kesadaran,
2. kejang,
3. linglung berat,
4. gangguan ingatan,
5. perubahan perilaku,
6. atau sensasi aneh berulang sebelum pingsan.
Jika muncul tanda-tanda tersebut, pemeriksaan langsung ke dokter diperlukan untuk memastikan penyebabnya.
Banyak orang menghubungkan déjà vu dengan firasat, kehidupan masa lalu, atau hal supranatural. Namun hingga saat ini belum ada bukti ilmiah kuat yang mendukung hal tersebut.
Sebagian besar penelitian medis lebih mendukung bahwa déjà vu merupakan fenomena neurologis dan psikologis yang berkaitan dengan sistem memori otak.

Karena déjà vu sering berkaitan dengan kelelahan dan stres, beberapa hal berikut dapat membantu mengurangi frekuensinya:
-tidur cukup,
-mengelola stres,
-menjaga kesehatan mental,
-mengurangi begadang,
-dan menjaga pola hidup sehat.
Bila déjà vu muncul sangat sering atau mulai mengganggu aktivitas sehari-hari, konsultasi ke dokter atau tenaga kesehatan dapat membantu menentukan apakah diperlukan pemeriksaan lebih lanjut atau tidak.
Menjaga kesehatan otak dan mental sama pentingnya dengan menjaga kesehatan fisik. Jika kamu memiliki keluhan terkait stres, kecemasan, gangguan tidur, atau gejala kesehatan lainnya, kamu bisa berkonsultasi secara praktis melalui Konsuldong tanpa harus keluar rumah. Unduh Konsuldong sekarang!
1. Cleary AM, Claxton AB. Déjà vu: An illusion of prediction. Psychological Science. 2020;31(6):635–644.
2. Martin CB, et al. Memory, familiarity, and déjà vu. Current Opinion in Behavioral Sciences. 2021;38:7–13.
3. Brázdil M, et al. Déjà vu in neurological and psychiatric disorders. Frontiers in Psychology. 2022;13:1012354.
Health
3 jam yang lalu

Health
1 hari yang lalu

Health
2 hari yang lalu

Health
3 hari yang lalu

Health, News
4 hari yang lalu

News
5 hari yang lalu
